Pohon kelapa
Tegak di ujung pasir,
dipuji karena berdiri,
dikutuk karena sunyi.
Laut berteriak seperti anak manja,
angin datang—menampar,
pergi—seolah bijak,
menyisakan luka yang disebut “keteguhan.”
Kulit keras dianggap tak retak,
padahal di balik sabut kasar
mengalir getah letih,
ingin rebah,
tanpa perlu meminta izin bumi.
Tak pernah melangkah,
namun letih seperti menempuh padang panjang.
Tak pernah mengangkat batu,
namun berat menahan gugur daun—
setiap helaian gugur adalah cacat luka
yang tak pernah dicatat doa.
Awan boleh bebas melarung air mata,
lalu dipanggil indah: hujan.
Sedang kelapa—
ditunggu hanya saat haus,
ditinggalkan hanya tempurung kosong.
Tak seorang pun bertanya,
“Apakah batangmu baik-baik saja
saat angin malam meremasmu
seperti penghakiman tanpa sidang?”
Kesepian berbisik lirih,
tak cukup keras untuk disebut derita,
tak cukup penting untuk diingat siapa pun.
Berdiri.
Diam.
Mendengar, tapi tak didengar.
Menanti, tapi tak ditanya.
Dan sialnya, tetap disebut “kuat.”
Dunia mencintai yang menjulang,
bukan yang jujur berkata:
“Lelah, muak, dan tak sekuat tampak luar.”
Namun batang tetap tegak—
bukan karena perkasa,
hanya sebab angin belum cukup ganas
untuk menjatuhkan.
Barangkali suatu hari,
akan ada yang menepi,
bukan untuk meneguk hausnya,
melainkan sekadar berkata:
“Biarlah rapuhmu terdengar,
biarlah rebahmu dimengerti.”
_________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar