Rahim Kering Di Antara Dua Sungai


Di antara dua sungai
—Efrat dan Tigris-
lahirlah peradaban,
di mana lumpur dan air
bersekutu melahirkan gandum,
kota-kota berdiri seperti doa yang terkabul,
dan manusia menyebut tanah itu subur.

Diantaranya.
terdapat gubuk doa dan istana raja,
ada patung-patung kecil dari tanah liat,
perempuan gemuk,
dada menonjol,
pinggul lebar-
figur kesuburan
dihadirkan,disentuh,dimohonkan,
agar bumi tetap beranak,
agar rahim tetap berdoa.

Lihatlah,
orang-orang Mesopotamia menari
di sekeliling simbol itu,
dengan harap:
panen tak gagal,
anak-anak lahir,
nama keluarga tidak punah.

Tetapi-

di dalam sejarah yang sama,
seorang perempuan tua,
namanya Sara,
tanah kering adalah rahimnya
gersang,serupa padang di mana angin
hanya membawa debu.

Bayangkan,
peradaban diapit sungai,
namun ia sendiri terkurung
di padang rahim yang kering:

Mesopotamia menumpahkan sungai,
Sara menampung kesunyian.
Dunia berbuah gandum,
ia berbuah kecewa.
Orang-orang menyalakan dupa
untuk patung kesuburan,
doa terderai tanpa jawaban.

Tapi-
iman adalah sungai lain
yang mengalir dari janji.

Abraham mendengar:
“Ketika waktunya tiba,
rahim yang mati pun akan hidup."

Sara tertawa.
Tawa itu getir,seperti pecahan gerabah,
tawa yang lahir dari tak percaya,
namun tetap ia genggam,
di bawah bantalan malam.

Dan di sanalah,
ketika segala perhitungan manusia runtuh,
tumbuhlah kehidupan baru:
Ishak.
nama yang berarti tawa.

Tawa yang dulu pahit
menjadi manis.
Tanah yang kering
mengeluarkan mata air.
Janji menjadi bukti:
kesuburan bukanlah monopoli sungai
atau patung tanah liat,
tetapi tentang rahasia Sang Pencipta.

Maka sejarah berbicara:
Bahwa Mesopotamia
dengan dua sungainya,
dengan patung-patung suburnya,
dengan kota dan menaranya,
hanya setetes pada luas samudra janji.

Bahwa iman dapat melahirkan
lebih banyak daripada sungai,
lebih banyak daripada patung.

Dan di rahim Sara,
yang lama disebut mandul,
Tuhan menuliskan
sebuah awal baru-
bagi bangsa,
bagi sejarah,
bagi manusia
yang mencari makna
antara subur dan kering,
antara tawa dan tangis,
antara janji dan harapan.

___________
Karya: Eross,2025
Terinspirasi dari sebuah kisah cerita
Oleh Sarah Bneiismael


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)