Sampai jumpa, Bu

Bu…
sejak engkau pergi,
hidup ini seperti perahu yang kehilangan nakhoda.
Aku masih berlayar di laut lepas,
ombaknya tinggi, anginnya liar,
dan aku berjalan tanpa arah,
tanpa suara lembutmu yang dulu jadi petunjuk disetiap perjalananku.

Aku sering merasa dunia ini memperlakukanku
seperti tanah yang terus diinjak-injak.
seperti lilin yang meleleh demi menerangi orang lain,
sementara aku sendiri perlahan habis terbakar.

Namun aku ingat pesanmu dulu:
"Jangan sedih ketika kamu dimanfaatkan, sedihlah ketika kamu tidak bermanfaat lagi."

    Kata-katamu itu sering kupegang erat, Bu.
Meski jujur, hatiku masih kerap terasa nyeri.
Masih ada kecewa yang tak bisa kuceritakan,
selain kepada Allah dalam sujudku yang sepi.

Aku rindu, Bu…
rindu tatapan hingga pelukan mu yang menenangkan,
rindu suaramu yang jadi obat untuk segala keresahnku.
Kini setiap malam aku duduk dalam hening,
menyebut namamu dalam doa,
agar Allah melapangkan istirahatmu,
menjadikan surga sebagai rumah tenangmu,
dan menjauhkanmu dari segala lelah dunia
yang kini aku tanggung seorang diri.

Bu, meskipun rasanya ingin engkau hidup kembali, Aku tidak tega meminta agar engkau kembali ke dunia ini.
karena aku tahu,
kepergianmu adalah cara Allah memelukmu
dengan kasih sayang paling lembut.
Kau telah selesai berjuang,
sementara aku masih harus bertahan di dunia
yang penuh petaka ini.

Bu…
kadang aku ingin menyerah,
kadang aku ingin berhenti.
Namun aku teringat bagaimana engkau memperjuangkan hidupku dan kakak-kakak dari kecil tanpa seorang suami.

Itu Perjalanan panjang yang kau perjuangkan dengan sangat tidak mudah, hingga hidupmu berakhir.

Maka meski kakiku goyah,
aku terus mencoba memperjuangkan hidupku.
meski dadaku penuh, terasa begitu sesak.
aku akan terus berusaha.

Dan bila malam terlalu sunyi,
aku selalu berbisik dalam doa:
Rindu ini bukan sekadar ingin bertemu,
tapi doa yang meniti jalan menuju surga,
tempat kita dipertemukan kembali.

Aku belajar dari kepergianmu, Bu,
bahwa cinta sejati tidak pernah berakhir.
Ia hanya berganti wujud menjadi doa.

Meski ragamu telah tenang di sisi Allah,
cintamu masih hidup di dalam nafasku,
menjadi petunjuk yang membuatku tetap terhindar dari ketidak mampuan mengendalikan diri.
Agar aku tetap waras.

Aku tahu…
ikhlas itu bukan melupakan,
melainkan terus mencintai
dengan cara yang lebih suci.

Bu, tunggulah aku…
sebab rinduku ini
tak akan pernah usai,
sampai aku kembali
dalam pelukanmu, Sampai jumpa ditempat dimana pada akhirnya kita tidak akan lagi pernah merasakan kelelahan, putus asa apalagi dipisahkan.

Aku mencintaimu bu...

Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Pesan: 

Hidup kadang terasa berat, dan kita pasti pernah merasa lelah atau ingin menyerah. Tapi ingat, setiap langkah yang kita ambil, sekecil apa pun, tetap berarti.

 Kita tidak bisa mengontrol semuanya, tapi kita bisa mengatur diri sendiri, berusaha, dan berdoa. Tetap kuat, jalani hari demi hari, dan percayalah, kesulitan akan berlalu jika kita tidak berhenti mencoba.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)