Sebatangkara di Negeri Penuh Tagihan

Aku ini sebatang kara
seperti pohon tua yang masih dipaksa berbuah
meski akarnya sudah nyaris busuk,
meski tanah di sekelilingnya tandus dan kering.

Negeri ini katanya ibu pertiwi,
tapi entah mengapa tangannya lebih sering merogoh
ketimbang merangkul.
Rakyat sudah melarat,
namun tetap ditanya:
"Mana pajakmu? Mana setormu?"

Ah, betapa getirnya menjadi anak bangsa
yang hanya bisa menanam keringat,
tapi hasil panennya dibawa angin birokrasi
ke ladang-ladang yang tak pernah aku pijaki. 

Katanya demi merah putih,
katanya demi tegaknya negara.
Tapi kadang terasa
aku hanya sehelai kain kumal
yang dipaksa menutup lubang kapal
agar tak tenggelam lebih cepat.

Aku cinta tanah air ini,
tapi apakah tanah air mencintaiku?
Ataukah aku hanya penumpang gelap
yang tiap langkahnya dicatat,
tiap napasnya dipajaki,
hingga hidup ini terasa lebih seperti hutang
daripada rumah sendiri. 

Namun, meski aku sebatang kara,
meski pundakku dipaksa memanggul beban
yang lebih berat dari nasibku,
aku masih menyimpan satu doa:
semoga suatu hari nanti,
merah putih tak lagi sekadar kain,
tapi rumah tempat rakyat pulang
tanpa harus membayar tiket masuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)