Dariku untuk Aku
Tanganmu hanya sepasang,
dan itu pun telah cukup melelahkan
untuk sekadar memeluk dirimu sendiri,
pada hari-hari yang terasa terlalu panjang.
Maka, jangan kau paksakan menggenggam segalanya—
duka yang bukan milikmu,
harapan yang tak pernah dititipkan padamu,
dan luka-luka lama
yang bahkan tak pernah kau torehkan sendiri.
Kau bukan penjaga semua perasaan.
Tidak wajib menjadi pelipur bagi kesedihan dunia.
Kau berhak memilih apa yang ingin kau simpan,
dan apa yang perlu kau lepaskan,
dengan tenang,
tanpa rasa bersalah.
Kau tidak harus kuat setiap waktu.
Namun, ingatlah:
lemah bukan berarti kalah,
dan hancur bukan berarti usai.
Dunia tidak akan berhenti berputar
hanya karena jiwamu sedang hancur.
Matahari tetap akan terbit,
meskipun kau memilih berdiam
di balik tirai kamar dan keraguan.
Tak apa.
Hari ini, kau boleh merasa cukup dengan bernapas.
Dengan membuka mata,
dan tak menuntut diri
untuk terus menjadi jawaban.
Peluklah dirimu
dengan segenap kasih yang mungkin belum pernah kau terima.
Dengan kelembutan
yang barangkali tidak sempat diajarkan oleh siapa pun.
Lihat dirimu:
masih di sini,
masih utuh,
meskipun berkali-kali merasa patah.
Kau tidak rusak—
kau sedang berproses,
seperti malam yang tak pernah benar-benar gelap,
karena bintang tak pernah absen sepenuhnya.
Berjalanlah, meski perlahan.
Tak perlu melompat untuk bisa sampai.
Tak perlu berlari untuk disebut kuat.
Cukup satu langkah kecil,
dan dunia pun akan tahu
bahwa kau sedang memilih untuk tetap bertahan.
Biarkan yang berat terjatuh.
Biarkan yang hilang tetap hilang.
Tidak semua yang kau genggam
diciptakan untuk dibawa sepanjang jalan.
Ada hal-hal yang lebih ringan
bila dibiarkan pergi.
Dan ada damai yang hanya bisa datang
setelah kau merelakan.
Ingatlah:
dirimu bukan tempat sampah dari semua kesedihan,
melainkan taman—
yang layak dirawat,
dihuni,
dan dicintai oleh dirimu sendiri, terlebih dahulu.
Dan pada akhirnya,
kau tetap pantas dipeluk—oleh dirimu sendiri.
_________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Note:
Aku tahu rasanya sendirian. Rasanya kayak semua orang jalan terus, sementara kamu tertinggal. Nggak ada tempat cerita, nggak ada yang benar-benar ngerti. Semua terasa berat, dan kadang kamu mungkin mikir, “Buat apa sih aku tetap di sini?”
Tapi tolong, jangan pergi.
Bukan karena orang lain. Bukan karena dunia akan kehilanganmu. Tapi karena kamu sendiri sebenarnya masih punya ruang untuk bertahan. Bukan harus semangat setiap hari—cukup bisa bangun, duduk, atau bahkan cuma bernapas. Itu pun udah cukup.
Nggak apa-apa kalau semuanya masih berantakan. Nggak apa-apa kalau kamu belum tahu mau ke mana. Yang penting, jangan berhenti. Kadang bertahan itu bukan soal jadi kuat. Tapi soal tetap hidup, meskipun nggak ada siapa-siapa di sampingmu.
Pelan-pelan aja. Satu hari lagi. Satu langkah kecil. Hidup nggak harus selalu baik, tapi selalu ada kemungkinan hal baik datang—kalau kamu masih di sini.
Dan itu, cukup jadi alasan.
Komentar
Posting Komentar