Seperti rumah lama - Catatan kecil
Beberapa hari terakhir, aku seperti menemukan rumah lama. Bukan rumah yang benar-benar pernah kutinggali, tapi tempat yang menyambutku dengan hangat, seolah aku tak pernah pergi terlalu jauh.
Ada riuh orang-orang yang masih mengingat namaku, senyum yang tidak dibuat-buat, dan sapaan yang membuatku merasa dihargai. Rasanya seperti membuka pintu yang sudah lama tertutup, lalu menemukan bahwa di baliknya masih ada kursi kosong yang memang disiapkan untukku.
Di sana, tidak ada persaingan, tidak ada rasa saling menjatuhkan. Justru sebaliknya: kami saling menegakkan, saling menepuk bahu, saling menasehati bila ada yang keliru. Itu benar-benar terasa seperti rumah. Sebuah rumah yang tidak menawarkan harta, tapi menyiapkan ketenangan. Dan anehnya, meski aku tidak mendapatkan apa-apa secara nyata, aku merasa ingin kembali terus, seakan ada sesuatu di sana yang bisa mengisi ruang kosong di hatiku.
Malam ini, ada hal yang sedikit berbeda. Aku bertemu dengan seseorang yang suaranya begitu indah—benar-benar meneduhkan, sampai-sampai membuatku tersenyum sendiri. Lucunya, suasana itu justru berbalik jadi semacam drama kecil. Dia seperti ingin menjodohkanku dengan seseorang, seorang laki-laki yang entah benar-benar menyukaiku atau hanya terjebak dalam malu-malu yang menggemaskan. Aku tidak tahu. Tapi tingkah canggung itu membuatku teringat masa dulu: rasa kikuk, tawa yang tertahan, dan tatapan yang tak berani berlama-lama.
Dan ironisnya, yang justru lebih lama berbincang denganku malam ini bukanlah laki-laki itu, melainkan orang yang hendak menjodohkan kami. Aneh, tapi menghibur. Setelah sekian lama aku berjalan sendirian, ternyata ada pertemuan sederhana yang bisa membuat hati terasa ringan kembali. Mungkin bukan cinta, mungkin hanya senda gurau.
Tapi bukankah hidup memang sering kali lebih indah bila diwarnai hal-hal kecil yang tak pernah kita rencanakan?
-Sarah Bneiismael.
Komentar
Posting Komentar