Suara Rakyat, Nafas Negeri

Kami adalah anak-anak bangsa,
lahir dari rahim Ibu Pertiwi yang suci,
dibesarkan oleh tanah subur,
dikuatkan oleh sejarah yang berdarah.

Kami masih percaya pada merah putih,
meski sering dipudarkan oleh tangan-tangan
yang seharusnya menjaga,
namun justru memperdagangkan harapan.

Wahai para pemimpin,
ketahuilah—
rakyat bukan sekadar angka dalam statistik,
bukan deret suara yang kalian pungut saat pemilu,
lalu ditinggalkan di jalanan penuh lubang.

Kami hanya ingin didengar.
Kami ingin negeri ini berdiri di atas keadilan,
bukan di atas meja perjamuan kekuasaan.
Kami ingin hukum berdiri tegak,
bukan tunduk pada mereka yang berduit.

Apakah kalian lupa,
bangsa ini lahir dari janji persatuan,
dari sumpah yang menyatukan laut, gunung, dan pulau?
Apakah kalian lupa,
bahwa kursi yang kalian duduki
dibayar dengan keringat, pajak, dan doa rakyat kecil?

Nasionalisme kami bukan sekadar kibaran bendera,
tapi kesetiaan untuk menjaga negeri,
meski sering dikhianati pengelolanya.
Kami mencintai Indonesia—
maka dengan cinta itulah kami bersuara,
menagih janji, menegur khianat,
agar bangsa ini tak jatuh ke jurang yang sama.

Dengarlah, wahai pemegang palu kebijakan—
suara rakyat bukan ancaman,
melainkan nafas kehidupan bangsa.
Jika kau menutup telinga,
maka kau sedang menutup pintu masa depan.


Dan pada akhirnya—
kami tetap berdiri di bawah langit nusantara,
menyulam luka dengan doa,
menyulut kecewa dengan harapan.

Kami tidak akan berhenti mencintai negeri ini,
sebab darah para pejuang masih berdenyut di nadi kami.

Kami tidak akan berhenti percaya,
bahwa suatu hari nanti,
Indonesia akan benar-benar merdeka—
bukan hanya di kertas,
tetapi di meja makan rakyat,
di sawah yang subur,
di sekolah yang penuh cahaya,
di dada setiap anak bangsa.

Selama merah putih berkibar di angin,
selama tanah ini masih disebut Indonesia,
kami akan terus bersuara:
karena nasionalisme sejati adalah cinta yang tak pernah padam,
meski diuji berulang kali oleh penguasa yang lupa.

By. Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)