Tabir penghianatan

Burung-burung mengepakkan sayapnya,
paruh mereka menggenggam gulungan naskah Agung.
Naskah terbuka di udara,
seakan langit sendiri yang membacakan Titah:
bahwa Seorang Putri bungsu
akan berjalan di arak-kan cahaya,
menuju singgasana,
duduk bersanding dengan seorang Raja muda
yang digadang sebagai penopang kejayaan Keluarga.

Tiupan angin membawa kabar itu ke segala arah,
hingga desa-desa kecil pun bergetar mendengar,
bahwa akan ada pesta terakhir
di istana keluarga yang sudah menua.
Tiada seorang pun meragukan,
bahwa perjamuan itu akan menjadi
tanda kemenangan dan keharuman nama.

Maka istana berhias.
Tenda menjulang bagai benteng penantian.
Lampion berderet, laksana gugus bintang
diturunkan untuk menyaksikan.
Meja-meja dipenuhi persembahan manis,
seindah upeti bagi para tamu Agung.
Segalanya disusun dengan hikmat.
Tak ada halangan seolah janji itu tak mungkin terguncang.

Namun—
sebelum lonceng kemuliaan dipukul,
sebelum genderang kejayaan ditabalkan,
mata hamba dipaksa menyaksikan
kenyataan yang memutus nadi harapan.
Raja muda yang dijanjikan itu,
bukannya menjaga kehormatan,
justru menanggalkan jubahnya sendiri,
menukar singgasana dengan ranjang sempit,
membaringkan diri bersama seorang asing,
yang bahkan tak pantas disebut selir.

Apakah ini martabat seorang raja muda?
Apakah inikah wujud kebesaran seorang pria
yang hendak hamba terima sebagai pemilik hidup?
Betapa murah harga kesetiaan,
betapa hina mahkota diperlakukan.

Hamba tidak menghunus keris,
tidak meraung bagai serigala terluka.
Hamba hanya duduk dengan pandangan kosong,
karena bagi hamba, tubuh adalah mahkota,
bukan suguhan murahan sebelum ikrar ditegakkan.

Namun, apakah yang menimpa hamba?
Bukan setia, bukan pelukan, bukan pembelaan.
Melainkan tuduhan,
cemooh,
dan cercaan.
Dari mulut keluarga Jalangkara itu,
terdengar kalimat setajam pedang:
bahwa hambalah yang lalai melayani,
bahwa hambalah yang patut dipersalahkan.

Wahai bumi, saksikanlah!
Sejak kapan kesucian berubah menjadi aib?
Sejak kapan kehormatan dianggap kelemahan?
Tidakkah mereka tahu,
jika benar hamba seorang dara nista,
tentu mahkota ini sudah lama terenggut
jauh sebelum perjanjian ini dibuat?

Ibunda, permaisuri yang luhur,
jatuh sakit menanggung malu
yang tidak pernah ia semai.
Air matanya menjadi sungai duka,
membanjiri halaman kehormatan keluarga.
Para saudara sepertalian darah
mengacungkan telunjuk,
menyebut nama hamba sebagai biang kehancuran.
Padahal siapakah korban sesungguhnya?
Siapakah yang dilempar keluar dari singgasana,
dibuang ke tanah asing,
dilarang pulang,
dibiarkan meratap seorang diri?

Burung-burung tetap berterbangan,
gulungan kabar tetap terbuka di udara.
Tiada seorang pun memanggil mereka kembali.
Kabar kemuliaan terlanjur tersebar,
namun tiada tangan yang berani mencabutnya.
Tenda berdiri kaku bagai menara ratapan,
lampion menyala redup dengan cahaya muram,
kue-kue manis tersusun rapi,
menjadi persembahan sia-sia
bagi pesta yang tak pernah dimulai.

Wahai semesta, dengarlah ratapan ini.
Tidak semua kerajaan runtuh karena perang.
Ada yang runtuh karena dusta,
diberi nama restu,
diberi selubung keluarga.
Ada singgasana tumbang
bukan oleh tombak musuh,
melainkan oleh syahwat yang diberi jalan mulus.
Ada mahkota yang tercabut
bahkan sebelum sempat dipasangkan,
karena rajanya memilih ranjang aib
ketimbang tahta yang dijanjikan.

Maka catatlah tragedi ini.
Seorang putri bungsu,
yang seharusnya dinobatkan,
terguling sebelum melangkah.
Ibunda menanggung luka,
hamba dipaksa menanggung aib.
Kerajaan kecil itu hancur
bukan oleh serangan asing,
melainkan oleh pengkhianatan dari dalam.

Dan kini—
engkau masih berani memaksa hamba memaklumi?
Engkau masih tega menutup mata dari kebenaran ini?
Apakah hamba tidak berhak atas kesempatan kedua?
Apakah hamba harus seumur hidup memikul dosa
yang tidak pernah hamba perbuat?

Wahai angin,
jika engkau masih berdaulat atas arah,
hembuskanlah kesaksian ini ke langit tinggi.
Sampaikanlah dengan suara gemuruh:
hamba bukan dara nista.
Hamba hanyalah ratu
yang singgasananya direbut,
mahkotanya dirampas,
dan tahtanya diruntuhkan,
bahkan sebelum hamba sempat dinobatkan.


Karya: Sarah Bneiismael
Disempurnakan oleh: T.N KOPI & PORORO

Pesan:
Kadang orang lain bisa nginjak harga diri kita, bikin sakit hati, bahkan bikin hidup rasanya runtuh. Tapi jangan lupa, yang namanya harga diri sejati cuma kita sendiri yang bisa jaga. Luka bisa jadi tenaga buat bangkit lagi, biar orang lain lihat kalau kita tetap kuat meski pernah dihancurkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)