Tak Lagi Kuat
Hamba pernah mencoba menanggung semuanya sendiri,
dengan kedua tangan yang gemetar,
dengan hati yang compang-camping oleh harapan yang selalu hamba tambal,
Namun terus robek lagi.
Setiap pagi hamba bangun,
memakai wajah yang tak pernah jujur pada dunia.
Tak ada yang tahu,
bahwa senyum ini adalah upaya terakhir
untuk tidak runtuh di hadapan mereka.
Hamba ingin menjadi kuat—
Namun, kekuatan itu perlahan menjadi kutukan.
Semua datang untuk bersandar,
tapi hamba tak pernah punya tempat untuk bersandar balik.
Hamba menjadi rumah yang tak punya atap untuk dirinya sendiri.
Ya Allah,
hamba tidak sedang memberontak,
hamba hanya…
sangat lelah.
Lelah menjadi yang selalu bisa,
lelah menjadi yang tak boleh salah,
lelah menjadi penampung luka
yang bahkan tak sempat mengobati lukanya sendiri.
Jika hidup adalah laut,
maka hamba ini perahu kecil
yang sudah lama kehilangan dayung
dan hanya terbawa arus,
berharap tidak karam,
meski tahu tak ada daratan dalam waktu dekat.
Hamba sadar,
hamba bukan hamba yang sempurna.
Terlalu banyak doa yang tertunda,
terlalu banyak sujud yang seharusnya lebih lama.
Tapi hari ini…
izinkan hamba kembali, Ya Allah.
Tak dengan kebanggaan,
tapi dengan hati yang hancur
dan air mata yang tak tahu lagi harus lari ke mana.
Hamba rindu tenang,
rindu merasa cukup hanya dengan-Mu,
rindu bisa menangis tanpa harus menyembunyikannya.
Jika harus ada luka,
biarlah itu luka yang mendekatkan hamba pada-Mu.
Jika harus ada kehilangan,
biarlah itu kehilangan yang membuat hamba mencari-Mu lagi dan lagi.
Dan jika takdir ini adalah jalan
untuk membuat hamba bersandar sepenuhnya pada-Mu,
maka jangan biarkan hamba berdiri terlalu lama,
karena hamba tak lagi kuat
menjadi kuat sendirian.
Maka jika Engkau tak izinkan hamba menang,
izinkan hamba kalah dalam dekap-Mu.
Biar seluruh air mata ini jadi saksi—
bahwa dalam hancur hamba,
hamba masih memilih kembali kepada-Mu.
_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar