KAU PELABUHANKU

Puan,
Kau kulupakan, namun nyata dalam ingatan.

Rasaku merayap di lekuk tubuhmu,
seperti malam menempel pada bumi,
membawa panas yang membakar,
namun menenangkan,
menjadi pelipur bagi kesepian
yang kau sembunyikan di balik senyuman.

Puan,
sudi kiranya aku meramu pilu,
merajut asa, menghapus luka
yang bersemayam dalam binar matamu

Bila cintamu adalah telaga suci,
izinkan aku meneguk setetes rindu
dalam rona jingga matamu.
Menyerap setiap detakmu,
menelusuri rahasia yang tak terucap.

Puan,
tatapmu teduh, meluruhkan hati.
Pelukku menutup celah dunia,
tanganku menangkap gelisahmu, Menghapus lelah yang kian menepi.

Tubuhmu, pelabuhan dalam gejolak.
Jejak rindu menempel, tak bisa kau hapus.
Setiap napasmu: racun sekaligus obat.

Manis memabukkan, gila menenangkan.
Kau,
Pelabuhan tempat rinduku dilabuhkan.

______
Naskah ini. Digagas oleh Pororo, diperdalam oleh Sarah Bneiismael, dan disempurnakan oleh Tuan Kopi


Note: Naskah ini termasuk puisi bebas,
karena tidak terikat aturan baris, bait, atau rima.
Bahasanya penuh kiasan dan metafora,
serta mengalir seperti prosa puitis
namun tetap terasa sebagai puisi melalui ritme dan pilihan kata yang emosional.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)