Titah abadi Ibu Pertiwi | Nasionalisme - Manifesto. Suara rakyat yang menuntut keadilan dan amanat bangsa dijalankan dengan benar, menyuarakan kritik terhadap kekuasaan yang lalai, dan menegaskan harapan kebangkitan Indonesia.
Kami adalah suara dari jalanan,
yang tak pernah padam meski dibakar terik matahari.
Kami adalah denyut nadi Ibu Pertiwi,
yang merintih, namun tak pernah menyerah.
Kami menolak negeri ini dipasung dusta!
Kami menolak janji dijadikan pesta!
Kami menolak kekuasaan yang hanya menggadaikan harapan!
Wahai para pengemban titah negeri,
ingatlah!
Kursi tempat engkau duduk bukan singgasana,
melainkan titipan rakyat yang haus keadilan.
Jika engkau lalai,
jika engkau berpaling,
maka runtuhlah dinding megahmu!
Kami yang akan menegakkan tugu kebenaran,
dengan tangan, dengan doa, dengan darah bila perlu.
Garuda bukan milik penguasa,
Garuda adalah milik rakyat.
Ia pernah menunduk karena keserakahan,
namun sayapnya akan kembali mengepak,
karena kami, rakyat, meniupkan angin perjuangan.
Indonesia—
engkau adalah tanah yang suci,
bukan ladang dagang para serigala.
Engkau adalah rumah bersama,
bukan panggung sandiwara kuasa.
Maka dengarlah:
Kami berdiri demi keadilan!
Kami bersuara demi kebenaran!
Kami berjuang demi Ibu Pertiwi!
Dan selama rakyat masih bernyawa,
Garuda akan kembali terbang gagah,
menjaga langit Nusantara,
hingga keadilan benar-benar terpatri,
menjadi tiang kokoh bagi negeri,
abadi dan tak tergoyahkan.
By: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar