Tragedi yang kurahasiakan
Di panggung bernama hari,
aku berdiri bertopeng—
senyumku di poles.
Tipuan, siap pamer.
Di balik wajah, jantungku mengamuk,
menuntut bicara.
Lentera ini kehabisan minyak,
namun dipaksa menyala—
agar mereka tidak terjungkal.
Siapa peduli apiku hampir padam,
ditelan malam yang rakus?
“Tak apa”—kunci palsu
menutup peti serpihan kaca;
kaca itu menari,
melukai daging
ketika ada yang asal membuka.
Kadang aku ingin jadi hujan, turun tanpa alasan.
Tapi di tanah ini,
air mata dipanen jadi komoditas,
dijual di pasar gosip,
untuk membakar aku sendiri.
Jadi, aku bungkam.
Kupelihara Naga di dada— biar ia menggeram di perut bumi,
tidak boleh terbang.
Jika lepas,
mereka akan menjerat lehernya,
menjadikan apiku tontonan,
lalu meninggalkanku jadi abu.
Aku murka pada mereka
yang menikmati tragedi lebih dari doa.
Marahku pada topeng
yang tak mau lepas—
aku ingin merobeknya,
memamerkan guratan
yang lama dirahasiakan.
Jika ada satu telinga tulus, jadikan sumur—diam, simpan, jangan di jual.
Hingga hari itu tiba,
Aku menulis dengan darah pena;
puisiku adalah penjara
yang aman dari mulut mereka.
Aku lelah—
tapi lelah ini api nyata,
bukan senyum manis.
Biar dunia menatap atau berpaling—
aku bara yang menolak padam,
akan membakar dari dalam
sampai segala topeng runtuh.
______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar