Aku akan telanjang pada waktunya
Di dunia yang menilai cinta dari seberapa cepat rahasia ditanggalkan,
kita memilih menjadi anomali yang tenang—
dua nama tanpa tubuh, dua jiwa yang percaya
bahwa getar hati tak selalu butuh saksi mata untuk menjadi nyata.
Setiap malam, bersama cahaya layar yang meredup.
aku menulis doa-doa yang tak pernah kukirim,
hanya agar suaramu terasa dekat,
dan keheningan ini menjadi tempat kita bertemu tanpa perlu disentuh.
Kau tak pernah memaksa menatap apa yang ada dibalik pakaianku,
dan dari diammu aku belajar:
bahwa sabar adalah cara paling lembut untuk mencintai.
Sementara dunia sibuk menguliti, menilai, menelanjangi,
kau memilih menatap dengan mata yang tahu batas.
Mereka menyebutku terlalu munafik,
padahal aku hanya tidak ingin menjadi panggung
bagi pandangan yang sering keliru menyamakan keindahan dengan penguasaan—
seolah rahasia harus dibuka untuk menjadi benar,
padahal sebagian kebenaran justru hidup di balik yang dijaga.
Sebab tidak semua yang tertutup sedang bersembunyi;
kadang, ia hanya menunggu saat cinta dihalalkan oleh Tuhan.
ketika tubuh bukan lagi rahasia, melainkan amanah,
dan tatapanmu menjadi satu-satunya tempat aku berani telanjang sepenuhnya.
Pada hari itu, aku akan kutanggalkan semuanya, termasuk seluruh ketakutanku—
Dan hanya kepadamu, aku akan berani.
Aku memeluk prinsipku seperti seseorang memeluk bayangan:
tak bisa digenggam, juga tak pernah hilang.
Dan di balik jarak yang dingin ini,
kau telah mengajariku bahwa kepercayaan
kadang lebih erotis dari ciuman,
lebih telanjang dari kulit,
lebih jujur dari janji yang diucapkan terburu-buru.
Biarlah dunia menyebut kita aneh,
biarlah mereka berlari dalam resah.
Yang tergesa hanya pandai menyingkap.
Sedangkan kita adalah yang paling sabar untuk tetap waras
Aku tidak ingin menjadi perempuan yang terburu buruk ingin klimaks
seperti bunga yang dipaksa mekar oleh sorot lampu.
Aku ingin menjadi taman rahasia,
yang hanya satu jiwa diizinkan mengetuk gerbangnya,
bukan karena ia paling ingin,
tapi karena ia paling tahu cara menunggu.
Nanti, saat waktu telah menyudahi hari hari yang diharamkan.
aku akan datang kepadamu tanpa sehelai benang dan rahasia—
bukan untuk dibuktikan, melainkan dimengerti.
Dan saat itu, aku akan menjadi milikmu
bukan karena telah terlihat seluruhnya,
melainkan karena telah dipercaya seutuhnya.
Sebab cinta yang tergesa hanya pandai membuka,
Sedangkan cinta yang menunggu dengan tenang
adalah yang paling tahu:
ketelanjangan sejati bukan memperlihatkan lekuk tubuh
melainkan pada keberanian untuk jujur tanpa harus diperlihatkan.
____________
Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar