Aku Menolak Minta Maaf (Sebuah elegi untuk mereka yang dibenci hanya karena berani menjadi diri sendiri).

Aku lahir bukan dari rahim kesempurnaan, hanya dari luka yang belajar berdandan.
Tapi entah mengapa, setiap kali aku lewat, dunia seperti tergesa-gesa menilai.
Aku tersenyum, mereka memicing.
Aku diam, mereka berbisik.
Seolah hidupku adalah panggung publik, dan napasku tiket gratis untuk mencemooh.

Katanya aku sok cantik.
Ah, tentu saja. Mungkin cermin di rumah kalian sedang mogok memantulkan pujian.
Padahal aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk menatapku seperti selembar dosa yang mengilap.
Tapi memang begitulah—manusia lebih mudah membenci bunga karena tak sanggup menumbuhkan taman di dadanya sendiri.

Mereka memanggilku sok bijak, padahal aku cuma berusaha tidak gila di tengah kebisingan dunia yang pura-pura waras.
Tapi rupanya, keheningan juga dianggap kesombongan.
Orang yang diam disangka menghina, yang bicara dianggap menggurui, yang menangis dituduh drama, yang tertawa dibilang haus validasi.
Apa lagi yang harus kulakukan?
Mungkin aku harus menjelma jadi batu bata agar mereka bisa puas menghantamku tanpa rasa bersalah.

Kadang aku berpikir, seandainya aku berjalan dengan wajah penuh lumpur, dengan rambut kusut dan bibir kering, mungkin mereka akan lebih tenang.
Karena kesedihan terlihat lebih “rendah hati” bagi orang yang senang melihat jatuhnya orang lain.
Tapi sayangnya, Tuhan memberiku bentuk yang tak bisa mereka pahami—dan aku terlalu malas untuk meminta maaf atas hal yang bukan kesalahan.

Aku hanya hidup, tapi bagi mereka itu kejahatan.
Aku hanya bernapas, tapi entah kenapa udara yang keluar dari paru-paruku dianggap sombong.
Seolah aku harus membayar pajak atas setiap senyum yang tidak mereka restui.

Mereka mengira kebencian bisa menenggelamkanku.
Lucu sekali—aku lahir dari laut ejekan yang sama, dan masih berdiri di atas ombaknya tanpa kehilangan napas.
Jika kata-kata mereka adalah batu, maka aku sudah membangun istana dari semua lemparan itu.
Tiap fitnah jadi hiasan dinding, tiap gosip jadi karpet merah yang kugunakan untuk lewat dengan anggun.

Kadang aku menertawakan mereka.
Mereka mengutukku di siang hari, lalu mengintip akun-ku di malam hari dengan rasa ingin tahu yang mereka sebut benci.
Mereka berkata aku haus perhatian, padahal merekalah yang tak bisa berhenti menatapku dalam diam.
Oh, ironis sekali — kebencian mereka terasa seperti cinta yang salah alamat.

Tapi tenang, aku tidak marah.
Aku hanya sedang sibuk menikmati peranku sebagai villain di cerita yang mereka tulis sendiri.
Kalau itu membuat mereka bahagia, biarlah.
Setiap kerajaan butuh tokoh jahat untuk merasa suci.

Dan jika menjadi diriku berarti menyalahi tatanan moral mereka,
biarlah aku jadi dosa yang paling indah yang pernah mereka bicarakan.
Dosa yang mereka benci tapi tidak sanggup berhenti membayangkannya.

Karena pada akhirnya, aku tidak butuh diterima oleh kebencian.
Aku hanya ingin menjadi badai yang mereka kira akan runtuh—
padahal aku adalah langit yang sedang belajar tertawa di tengah petirnya sendiri.

Jadi silakan, terus bicarakan aku,
terus carilah cela di wajahku yang kalian jadikan alasan untuk membenci.
Aku akan tetap berdiri, dengan kepala penuh api dan hati sekeras bumi.
Dan bila nanti kalian lelah mencaciku,
aku masih di sini—masih terlalu hidup,
masih terlalu indah untuk mati hanya karena lidah kalian gatal ingin merasa benar.

_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)