Aku Sudah Minum Obat Hari Ini (tentang kewarasan yang dipaksakan atas nama cinta dan kebaikan)
Aku lahir dari pelukan yang terlalu manis,
pelukan yang meneteskan madu sampai aku lupa rasa darahku sendiri.
APA KAU TAHU RASANYA DICEKIK OLEH KASIH YANG KATANYA SUCI?!
Pelukan lembut—tapi mematikan perlahan!
Aku dibesarkan di taman,
tempat cinta tumbuh di atas kuburan.
Bunganya wangi,
wangi pencitraan yang disiram air mata pura-pura.
Setiap napas harus sopan,
setiap luka dituntut sabar,
bahkan jerit pun harus tampak beriman.
SIAL!!!
Bahkan sedih pun harus estetik sekarang!
AKU BOSAN JADI ARCA
BERDIRI GAGAH DIBALIK KEPALSUAN
MEMAKAMKAN SEGALA PANDANGAN TANPA BISA MEMUKIMKANNYA DIDALAM KEPALA
LALU AKU PULANG KEMANA?
Akulah gagak, menyeramkan sekaligus menyedihkan.
Sinting gila sinting sinting gila sinting gila sinting gila sinting Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Aaaaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh
AKU PERNAH PERCAYA CINTA ITU CAHAYA
Sial,
itu obor yang ditanam di dadaku,
membakar pelan-pelan sambil mereka bilang: ini pengorbanan.
Percaya pernah berkata kepadaku
“Segala yang terbaik adalah milikku”;
Harapan, doa, Pun ketika aku telanjang juga kebaikanku.
padahal itu rantai,
dan aku cuma anjing yang dilatih menggonggong.
GUK GUK GUK..
Lihat! Hatiku retak, tapi masih bisa tersenyum
Lihat! Air mataku sopan, tahu cara jatuh dengan anggun
betapa indahnya menjadi manusia yang bahagia secara rohani tapi sekarat secara jiwa
Aku ingin marah
Aku ingin menjerit sampai langit retak,
sampai surga tuli mendengarku.
Lidahku dikunci oleh restu.
Dan di dadaku tumbuh taman doa—penuh bunga, penuh duri, penuh diam.
AKU INGIN MEMECAHKAN KACA ITU
WAJAH DI SANA TERLALU PATUH UNTUK AKU KENAL
TERLALU DAMAI UNTUK DI PERCAYA
Damai seperti rumah sakit jiwa yang wangi melati.
Aku lelah,
lelah jadi simbol kesabaran,
lelah jadi cerita sukses versi orang-orang yang tak pernah paham sakitku.
AKU INGIN MENCABIK SEMUA KATA "BAIK" DARI KULITKU
MENINGGALKAN DAGING JUJUR YANG MASIH BERDARAH
Aku ingin menanggalkan nama,
menjadi makhluk yang berjalan di bawah hujan,
menertawakan langit yang tak pernah berhenti menasihati.
BIAR PETIR MEMBAKAR KEPALAKU!
BIAR BADAI MENJILAT LUKAKU!
SETIDAKNYA ITU CINTA YANG JUJUR,
BUKAN KASIH YANG MEMBAKAR DENGAN SENYUM!
Dan bila dunia bertanya ke mana aku pergi,
katakan:
aku sedang belajar mencintai diriku dengan cara yang tak disetujui siapa pun.
Aku sedang berdoa tanpa kitab,
menangis tanpa malu,
tertawa tanpa restu.
KASIH YANG TERLALU LEMBUT ITU RACUN!
DIBUNGKUS SENYUM, DISELUBUNG RESTU,
DIBERIKAN ATAS NAMA CINTA—
DAN AKU TAK MAU MATI SEINDAH ITU!
Aku ingin hidup.
Meski robek, meski brutal, meski tak sopan.
Sebab luka yang jujur jauh lebih murni
daripada kasih yang manis tapi busuk dari dalam.
____________
Karya: Sarah Bneiismael & Ky
Terinspirasi dari kisah hidup : Deci
Komentar
Posting Komentar