Risalah dari Neraka

Entah mengapa rasa tampak suci—
seperti dosa yang tekun belajar berdoa.
Disembah dengan khusyuk, dipuja dengan takut.
Padahal di balik jubahnya,
ada iblis yang tertawa pelan,
menyebut diri: perasaan mulia.

Aku muak pada rahmat yang menuntut darah,
pada kasih yang berkhotbah tentang pengorbanan,
namun diam-diam menagih luka dari yang menahan.

Ia datang seperti wahyu yang salah alamat,
membawa janji tentang langit—
padahal langkahnya beraroma daging terbakar.

Dan aku bertanya dalam sunyi:
apakah itu iman, selain cara sopan untuk menjadi gila?

Sebab tiap kali aku ingin melupakan,
ia datang membawa ayat baru tentang kerinduan,
dengan tinta yang menetes dari tangan gemetar
di bawah meja mihrab.

Aku pernah berdoa agar rasa ini dimatikan,
namun yang datang malah pencerahan—
bahwa Tuhan mungkin juga pernah menciptakan cinta
bukan untuk menyelamatkan,
melainkan untuk menguji siapa yang sanggup
menolak indahnya neraka.

Di antara nyala dan ngeri,
aku menahan jemariku yang ingin menyentuh,
seperti zahid menahan napas
di hadapan cobaan yang tampak seperti rahmat.

Kita, dua manusia yang terlalu sadar,
menyulut bara dengan doa,
menguburnya dengan hikmah,
lalu menulis risalah agar tampak bijak
di mata diri sendiri.

Kita menyebutnya menjaga jarak—
padahal itu cuma cara sopan
untuk menolak mengaku kalah.

Sungguh ironis:
betapa lembut cara dosa menyapa
bila ia datang dengan logika yang baik
dan suara beradab.

Setan tak lagi berbisik—ia mengajar.
Ia menulis dengan bahasa yang kita sebut kebajikan,
dan kita, dalam keanggunan yang munafik,
menyebutnya puisi.

Aku membenci rasa ini
seperti zahid membenci godaan—
bukan karena jijik,
melainkan karena tahu betapa nikmatnya
jika menyerah.

Dan di situlah penghinaan sejati:
cinta membuatku tampak suci di luar,
namun di dalam aku terbakar,
tanpa pernah berani menjadi abu yang jujur.

Antara muak dan rindu,
aku tak lagi tahu siapa yang berdoa dalam diriku.
Maka biarlah surga dan neraka yang memutuskan,
Menghentikan lidah dari perdebatan tentang dosa.
Biarkam malaikat mencatat dengan tinta
yang mereka pahami—
apakah ini kesesatan,
atau sekadar iman yang tersesat arah.

Sebab kami terlalu fana untuk menafsir kehendak,
terlalu sadar untuk berpura-pura tak berdosa.

Jika ini godaan, biarlah Tuhan sendiri yang menegur.
Jika ini cinta, semoga Ia tak murka
melihat dua arwah bersujud di tengah bara,
masih menyebut nama-Nya—
meski dalam dada, setan bertepuk tangan.

Dan bila kelak Ia bertanya
tentang bara yang kami sembunyikan,
biarlah kami menjawab:
itu bukan kehendak kami sepenuhnya.

Engkau yang menyalakan api di dada,
Engkau pula yang memerintahkan kami menahannya.
Maka jika kami terbakar,
biarlah itu menjadi bentuk lain dari sujud.

Dan bila kelak Engkau bertanya
tentang bara yang kami sembunyikan,
biarlah kami menjawab:
kami hanya belajar mencintai-Mu
dengan cara yang paling manusiawi—
melalui godaan, melalui dosa,
melalui segala yang Kau larang demi Kau kenali.

Sebab bagaimana mungkin kami tahu
artinya sujud,
jika tak pernah jatuh pada api
yang Kau nyalakan sendiri?


____________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)