Jalan Tol Ilusi (Ayah)
Ada tembok tak terlihat di antara kita,
yang lebih kokoh daripada janji manusia,
lebih abadi daripada kata-kata manis yang dibuang ke angin.
Hari demi hari, bayangmu memudar
seperti lilin yang padam di tengah badai.
Andai aku punya kuasa,
ingin kusumpahi malam-malam kelam
yang menelan masa laluku tanpa permisi.
Andai aku diberi kesempatan,
ingin kurasakan sekejap cintamu,
yang selama ini cuma kudengar dari cerita yang menipu telingaku.
Ayah...
Aku berkecamuk dalam bayanganmu
yang dibentuk kisah orang lain—
katanya kau tameng dari badai hidupku.
Tapi kenyataannya,
aku hanyut di sungai amarah,
terbawa angin sarkasme, tersangkut di ranting-ranting tajam
yang seakan menertawakan langkah telanjanku.
Betapa pedih hidup tanpa dirimu.
Betapa perih menapak bumi
yang tertabur pecahan kaca,
sementara kakiku telanjang—dan dunia cuma menonton, tertawa.
Mereka bilang Tuhan tahu yang kubutuhkan,
tapi mengapa Ia membiarkan aku
terhuyung di jalan yang penuh duri
dengan ujung yang tak pernah terlihat?
Ah, dunia memang jahat dalam balutan doa manis.
Aku tak pernah bisa santai di dunia ini.
Jika orang lain melihat dunia sebagai taman bunga,
aku melihat medan perang,
penuh bayangan, duri, dan janji kosong
yang tergantung seperti hantu yang menertawakanku.
Aku selalu merindukanmu, Ayah.
Selalu ingin tahu,
bagaimana hidupku akan tertata
jika kau ada di sampingku.
Namun harapan itu terlalu jauh,
seperti bintang yang menertawakan bumi yang kotor ini.
Kini hatiku masih bergetar pilu
atas ketiadaanmu,
sambil memaksa diri
menari di tengah badai kenyataan
yang tak pernah memberiku ampun.
Ayah...
Apa kabarmu di sana?
Apakah kau telah bertemu Ibu?
Dia baru saja berpamitan dariku...
Sambutlah dia, peluk dia dengan surga,
karena dunia ini terlalu dingin untuknya
dan terlalu sibuk menertawakan kesetiaannya.
Selain aku sebagai anakmu,
aku saksi betapa wanita itu
mencintaimu tanpa jeda—
tak pernah berpaling, tak pernah ragu,
meski dunia menertawakan kesetiaannya,
menganggap cinta itu lelucon yang terlalu mahal.
Jika aku dihantam badai di dunia,
dia mungkin pernah merasakan
langit runtuh di atas kepalanya,
sementara dunia pura-pura tidak melihat.
Dia lelah, Ayah...
Peluklah dia, hangatkan dia,
karena dunia ini terlalu dingin untuknya,
dan terlalu sibuk menghitung dosa orang lain.
Soal aku,
yang masih terluka karena kehilangan kalian—
jangan pikirkan aku.
Berbahagialah di sana,
dan tunggulah aku,
hingga waktuku tiba.
Semoga kelak kita bersatu kembali,
atas izin Allah,
tanpa pernah terpisahkan lagi.
Amin.
---
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar