Kakiku Luka-luka oleh Lika-liku (sebuah renungan tentang kedewasaan yang tumbuh dari kerasnya perjalanan hidup)
Kakiku luka-luka oleh lika-liku,
setiap jejaknya menembus luka yang tajam.
Batu bersembunyi di bawah niat,
dan waktu Bersijingkat melangkah.
Tanah meneguk darah kecilku,
seolah berbisik:
“Jejak yang bijak bukan hanya mampu mencapai ujung, tapi tetap hening
di tengah batu yang terus menanyakan alasan.”
Tanganku pecah oleh kerasnya keinginan,
menggenggam sesuatu yang tak lagi perlu.
Angin berbisik di punggungku,
“Belajar melepas bukan berarti kalah,
tapi berhenti melukai diri sendiri.”
Di rimba waktu aku berjalan pelan,
akar menahan, ranting menggores.
Setiap luka menyimpan tafsir baru
tentang makna bertahan.
Langkahku patahpecah oleh arah yang resah
Disela retakannya, tumbuh keheningan
yang tak lagi menuntut jawaban.
Di sanalah aku belajar:
tidak semua yang tajam berniat melukai,
kadang hanya menegur agar aku berhati-hati.
Pernah aku terjatuh pada cahaya palsu,
menyembah kilau yang ternyata bara.
Namun dari hangus itu lahir pengertian,
bahwa api pun bisa menjadi guru
bila kita tak terburu memadamkannya.
Bumi mengujiku dengan kelembutan yang keras:
membiarkan aku tersesat,
agar tahu arti pulang yang sesungguhnya.
Langit menatap tanpa bicara,
mengajariku cara berdialog dengan diam.
Kini langkahku tak lagi mencari arti,
hanya menyimak apa yang hadir di jalannya.
Setiap duri tak lagi musuh,
setiap badai sekadar guru yang singgah.
Aku tak menakar benar dan salah,
karena hidup lebih luas dari ukuran manusia.
Hatiku cukup menjadi ladang,
tempat apa pun tumbuh tanpa harus aku setujui.
Dan di ujung perjalanan ini,
aku temukan kesabaran yang nyaris tak bersuara:
bening seperti sungai di dasar batu,
mengalir tanpa mengusik siapa pun.
Sebuah ketenangan yang tak mencari penonton,
tak perlu pengakuan,
hanya ada —
seperti karang yang memahami lautnya.
---
Karya: Sarah Bneiismael
Disempurnakan oleh: Ky
Komentar
Posting Komentar