Kemesraan tak perlu teori

Tubuhmu dekat denganku,
hangat, menenangkan, seperti dunia berhenti sebentar.
Bibirmu menyentuh bibirku perlahan-lahan,
menempel seperti janji kecil
untuk menutupi keraguan yang diam-diam menunggu.

Tanganmu menyusuri kulitku dengan lembut,
menghapus semua garis tegang di punggung dan bahuku.
Aku terbuai dalam kehangatan itu,
merasakan kenyamanan yang aneh, damai, menipu.
Di momen ini, rasanya tidak ada larangan, hanya napas kita yang bersilang.

Kita diajari bahwa menyentuh, berciuman, atau bermain dengan rasa itu wajar—
bahkan aman, selama kita tahu “caranya”.

Padahal ada sesuatu yang menekan di dada,
suara hati yang berbisik: “Beberapa batas tidak seharusnya disentuh.”

Ironi mengalir halus di antara tiap desir:
kebebasan yang diberikan membuat kita terlena,
sementara beberapa hal yang seharusnya tabu
kini dibungkus hangat, nyaman, dan erotis.

Aku menutup mata ketika bibirmu mengecup bibirku,
merasakan setiap desir yang mengalir seperti arus hangat di kulit 
Setiap sentuhan menenangkan, setiap tarikan napas membuatku ingin tetap di sini,
seolah dunia hanya milik kita
dan aturan moral hanyalah bayangan jauh.

Dibalik keintiman manis itu,
aku tahu: yang nyaman tidak selalu benar.

Mendekati batas sudah berbahaya— sentuhan, ciuman ini, meski hangat dan menggairahkan, adalah sihir yang menutupi kebenaran.

Aku tersenyum pahit dalam dekapanmu,
merasakan hangat yang menenangkan dan menipu.

Bahwa kebebasan zaman ini memberi kita petunjuk sekaligus ketidak bijaksanaan.

Sentuhanmu adalah kenyamanan sesaat,
sebuah pelarian dari kesalahan yang tak terhindarkan.

Dan aku sadar, di balik setiap ciuman yang mesra ini,
ada pelajaran yang terlupakan:
bahwa keintiman yang terasa manis
tidak selalu membimbing kita ke arah yang benar.

Dan aku tetap di sini, dalam dekapanmu,
mendamba kehangatan yang menenangkan,
terbuai oleh rasa nyaman.

sementara ironi zaman ini mengalir di setiap napas kita,
mengajarkan bahwa kesalahan sering diselimuti oleh manisnya sentuhan,
Lalu menjadi pengalihan
seperti sungai tenang menutupi jurang di bawahnya.


_________
Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)