Kenang senang hilang - Tenang

Kabut turun
seperti doa yang lupa kepada siapa harus kembali,
melembut di bahuku—
mendekap letih yang bahkan doa enggan menyentuh.

Tanah di bawahku bergetar perlahan,
ia mengingatkan:
setiap luka adalah benih yang sedang belajar diam.
Dan air mata—
tak lain hanyalah hujan
yang memilih wajah lain untuk jatuh.

Aku duduk di antara bau embun dan tanah basah,
menatap seutas cahaya menua di cakrawala,
berpikir:
barangkali Tuhan tidak selalu menjawab,
kadang Ia hanya menumbuhkan kesabaran,
agar sunyi tahu cara berbunga perlahan.

Angin menuntunku dengan lembut,
berkata:
“Kesedihanmu hanyalah bahasa lain dari rindu
yang tak tahu arah pulang.”

Lalu aku tersenyum,
seperti api yang kehilangan alasan untuk membakar.
Inilah cinta:
menjadi hangat yang belajar melepaskan.

Dan malam pun menutup dirinya perlahan,
membiarkan segala yang sempat menyala
kembali menjadi teduh.

Hanya tersisa desir lembut di udara—
seolah semesta menepuk punggungku pelan,
mengajarkan:
bahwa setiap kenang, senang, hilang,
bermula dari kesediaan menjadi tenang.

_______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)