Kita Semua Ampas (Narasi Resmi dari Rakyat yang Tak Pernah Dapat Giliran Menyeruput kopi)

Kami sudah terlalu lama menunggu air mendidih,
sementara mereka di istana
sibuk menghitung gelembungnya —
mungkin dikira itu tanda kemajuan,
padahal cuma buih kesombongan.

Kami tahu, pahit seharusnya sederhana:
asal jujur dari bijinya.
Tapi kopi negeri ini
diseduh dengan kebohongan,
disaring dengan janji kampanye,
disajikan dalam cangkir propaganda,
hingga ampasnya mengendap di dasar kami,
dan busanya terbang ke bibir mereka —
sebagai pidato, tepuk tangan,
dan potongan berita di prime time.

Setiap pagi kami menyeruput berita,
setiap malam meneguk beban.
Harga naik, janji turun,
dan doa — ah, doa —
tak lagi cukup menetralkan getir
di lidah yang dipaksa bersyukur.

Mereka bilang:
“Jangan terlalu pahit, nanti perutmu sakit.”
Tapi pahit ini bukan dari kopi — dari hidup yang direbus.
dengan kompor janji yang apinya
tak pernah padam —
meski bahan bakarnya
adalah harapan rakyat.

Di televisi, mereka menepuk dada:
menyebut stabilitas seperti mantra,
memoles angka jadi lukisan,
seolah grafik yang menanjak
bisa menggantikan dapur yang tak menanak.

Kami mendengar tawa dari ruang rapat —
tawa yang baunya gosong,
karena tungku yang mereka sebut “kebijakan”
telah membakar sabar kami.

Ah, negeri ini —
warungnya megah, sendoknya karat.
Gulanya habis diborong pejabat,
dan kami diminta bersyukur
karena masih boleh meneguk ampas
berlabel subsidi.

Mereka menyebut rakyat “teman minum,”
tapi tak pernah duduk di meja yang sama.
Mereka bicara tentang pembangunan inklusif,
padahal lantai tempat kami berdiri
sudah licin oleh tumpahan keringat
dan darah yang mereka sebut
“data ekonomi makro.”

Ada yang marah — diseduh pelan.
Ada yang lapar — disuruh berdoa.
Ada yang kehilangan kerja —
disebut “penyesuaian sektor tenaga kerja.”

Kami tertawa getir.
Sebab pahitnya sudah melampaui kopi.
Lidah kami kebal, sayangnya perut kami tidak.

Dan di ujung hari,
amarah mulai berdesis di dasar teko,
menunggu satu derajat lagi untuk mendidih.

Kelak, bila meja itu terguncang,
bila cangkir mereka tumpah,
jangan sebut itu pemberontakan.
Sebut saja —
ampas yang akhirnya naik ke permukaan.

___________
Karya; Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)