Lautan yang Kutunggu, Api yang Kutahan


Dia berkata ia mencintaiku,
dengan nada yang seperti peluit kapal di tengah kabut,
menandai harapan yang tak pernah kuketahui kapan datangnya.
Katanya ia akan menolongku,
mengangkat aku dari segala lubang yang tak terlihat oleh mata,
membawa aku ke rumah yang seharusnya kami bangun bersama.

Aku percaya.
Aku menunggu seperti pohon yang menunggu kilat menembus malam,
tanpa sadar, setiap janji yang jatuh padaku meneteskan racun lembut ke dalam nadi.

Lalu aku melihatnya—tidak lagi di sisi yang kusebut rumah,
tapi di pelukan perempuan lain, yang tertawa seolah dunia hanya milik mereka.
Tangannya menari di kulitnya, bibirnya bersatu,
dan aku berdiri seperti cermin pecah, menatap serpihan diri sendiri.
Jantungku berdetak setara dengan ribuan gong yang hancur,
napasku tersengal, suara tangisku tertelan oleh dinding kosong.

Aku ingin berlari, menjerit, menghancurkan segalanya.
Tapi aku hanya bisa diam, menelan kaca yang menembus tulang,
dan menyadari bahwa cinta bisa lebih kejam daripada kematian.
Ia menolak menunggu, dan aku tidak mampu memberi kepastian.
Maka ia memilih wanita lain yang bisa berkata “ya” tanpa ragu,
sementara aku tetap menjadi mayat hidup di sampingnya.

Malam itu, hujan turun dengan kemarahan yang tak bersuara,
menyapu tubuhku di balkon, membasahi rambut, pakaian, dan kepalaku.
Aku berteriak pada langit—namun bintang pun enggan menatapku.
Aku menendang kursi, menabrak dinding, menjerit,
tapi hanya gema yang kembali, seolah dunia menertawakanku.

Di tengah kegelapan itu, aku melihatnya lagi.
Ia menyerahkan cincin pada perempuan itu—temanku sendiri,
dengan senyum yang dulu sempat kulekatkan di dahi dan pipinya.
Cincin itu berkilau seperti bulan yang memotong malam,
dan aku menelan seluruh langit yang runtuh dalam mulutku.
Aku merasa seluruh tulangku pecah, semua urat nadiku tersayat,
namun aku tetap berdiri, meski tubuh ini seperti tumpukan abu yang siap diterbangkan angin.

Aku ingin membalas, ingin mengutuk, ingin menenggelamkan dunia.
Tapi di titik paling dalam kehancuranku, aku menyadari sesuatu:
bahwa cinta bukan soal memiliki,
bahwa rumah tidak selalu dibangun bersama orang yang kita pilih,
bahwa terkadang orang pergi bukan karena kita tak cukup,
tetapi karena mereka harus mencari yang bisa bertahan lebih dulu.

Aku belajar dari luka itu—dari kaca yang menembus daging dan hati:
bahwa kepasrahan pun bisa menjadi kekuatan,
bahwa air mata yang jatuh tidak selalu lemah,
bahwa hati yang hancur bisa menjadi lentera bagi orang lain.

Dan di tengah hujan yang semakin deras, aku tersenyum sendiri—
bukan karena bahagia, tapi karena aku masih hidup,
masih bisa berdiri di tengah puing-puing janji,
masih bisa mencintai tanpa memaksa,
masih bisa merasakan sakit dan menjadikannya guru.

Aku menatap langit yang basah, dan berbisik:
“Jika semua yang menyakitimu datang untuk mengajar,
biarkan mereka mengajar.
Jika dunia memaksa tulangmu menjadi kaca,
biarkan kaca itu memantulkan cahaya.
Aku akan berjalan, meski kaki ini berdarah.
Aku akan mencintai, meski tanpa dia.
Dan aku akan tetap utuh, meski serpihan dunia menempel di kulitku.”

Hujan mereda, tapi aku tetap berdiri.
Tubuhku lelah, jiwaku retak,
namun mata ini sudah melihat kebenaran:
bahwa kehilangan bukan akhir dari cerita,
bahwa melepaskan bukan pengkhianatan pada cinta,
bahwa hati yang tetap berdiri setelah runtuh adalah hati yang paling perkasa.


_______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)