Maaf untuk diri yang pernah ku tinggalkan
Maaf,
aku pernah menukar suaramu
dengan sunyi yang tampak sopan.
Kubiarkan engkau membusuk dalam senyum
agar dunia tetap menyangka aku baik-baik saja.
Aku memaksa hatimu menelan ribuan luka
dengan nama kesabaran.
Kupelintir rasa sakit menjadi dalil keteguhan,
padahal setiap sabar yang kupaksakan
adalah bentuk lain dari ketidakpedulian.
Maaf, diriku—
aku telah menguburmu hidup-hidup
di bawah puing keinginan orang lain.
Setiap kali engkau memohon untuk didengar,
aku menenggelamkanmu
di dalam doa yang tidak pernah benar-benar kusertai dengan hadir.
Kau memanggilku dari dalam dada,
dengan suara serak seperti angin yang kehilangan arah,
namun aku menutup telinga
karena aku lebih sibuk menjaga dunia
daripada menjaga jiwaku sendiri.
Aku menamai semua luka dengan bahasa indah,
agar tampak sabar, agar tampak tegar.
Aku menulis kata “ikhlas” di atas darah yang belum kering,
seolah Tuhan tak bisa membedakan
antara redha dan pasrah yang terpaksa.
Maaf—
aku terlalu sering membuatmu berlutut
di depan rasa bersalah yang bukan milikmu.
Aku memintamu meminta maaf
kepada mereka yang menyakitimu,
dan menyebutnya kedewasaan.
Padahal itu hanyalah cara lain
untuk mengkhianatimu dengan sopan.
Aku telah lama lupa
bahwa engkau juga ciptaan Tuhan
yang pantas dipeluk, bukan dikorbankan.
Aku menafsirkan kebaikan
sebagai penghapusan diri sendiri,
dan menyebutnya amal.
Kini aku melihatmu,
kering, pucat, dan retak di mata sendiri.
Kau tidak menuntut apa pun,
hanya ingin dipeluk tanpa ditunda.
Namun aku datang terlambat—
terlalu banyak hari yang kubiarkan kau menggigil
di bawah cahaya doa yang tak pernah benar-benar hangat.
Maaf,
aku membiarkanmu kehilangan nama.
Aku menukar hatimu dengan topeng,
hingga ketika dunia memujiku,
engkau justru menangis di dalam dada.
Kini aku ingin mengembalikanmu
pada bentukmu yang dulu lembut,
sebelum semua luka mengajari kita
bahwa mencintai diri sendiri itu egois.
Aku ingin memandikanmu
dengan air mata yang selama ini kutahan,
menyelubungimu dengan sabda yang jujur:
engkau cukup.
Bahkan dalam retak, engkau tetap layak.
Bahkan dalam kecewa, engkau tetap suci.
Maaf,
karena aku membuatmu hidup dalam diam yang menua.
Kini biarlah aku yang menangis untukmu,
bukan lagi melawanmu.
Biarlah kali ini,
aku menjadi rumah yang tak mengusirmu lagi.
Dan bila Tuhan menanyakan
apa yang kupelajari dari semua luka,
akan kujawab pelan:
> Bahwa menyakiti diri sendiri dengan alasan kebaikan
adalah dosa yang paling sunyi,
dan memaafkan diri sendiri
adalah bentuk tobat yang paling indah.
_____________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar