Puisi Ini Tidak Sesuai Standar ISO 9001
Aku menulis dengan pena
yang getarnya seperti detak jantung—
pelan, berhitung, takut salah menaruh koma.
Setiap kata adalah simbol,
setiap jeda adalah akar kuadrat
mencari hasil dari sesuatu yang tak pasti.
Di antara garis dan variabel,
kususun rasa
seperti algoritma yang hanya aku pahami.
Lalu seseorang datang membawa kata "batu" .
Dengan senyum seolah penilai, ia berkata:
“Tambahkan ini, agar puisimu lebih kuat.”
Aku tersenyum kecil.
Lucu, pikirku —
seolah kekuatan bisa diukur dengan benda padat,
seolah perasaan bisa diuji tekan seperti konstruksi jembatan.
Aku jelaskan perlahan,
bahwa ini bukan tentang bumi.
Namun tentang angka yang menolak gravitasi,
tentang cinta yang ditulis dalam logaritma dan limit tak berhingga.
Bahwa seluruh metafora telah disusun agar tak goyah oleh benda riil.
Tapi ia menganggap penjelasanku rumit,
dan dengan enteng menuduhku terlalu merendahkan diri.
Ah, mungkin benar.
Aku ini hanya tukang kata—
yang mencoba menata logika dalam irama,
menggambar luka dengan rumus yang tak ia kenali.
Dan begitulah dunia mengajar sastra:
yang tak paham simbol akan menuduhnya kesombongan,
yang tak sanggup menjangkau makna akan menyebutnya delusi.
Aku hanya menulis, tapi mereka ingin mengoreksi hidupku.
Di depan umum, ia menjelaskan caraku salah menulis diriku sendiri.
Dan karena aku tak ingin memecahkan persamaan kebodohan massal,
aku memilih keluar —
bukan kalah, hanya enggan ikut ujian
yang soalnya tak logis dan nilainya sudah ditentukan.
Di luar, aku belajar tentang diam:
bahwa kadang, yang paling keras bukan suara,
melainkan ketenangan yang menolak dibungkam.
Lalu aku datang pada seorang bijak, beliau menasihatiku,
“Suatu hari, bukan hanya yang tak paham akan mengoreksi karyamu,
mereka yang pura-pura mengerti, juga akan ambil peran.”
Kutulis kalimat tersebut di sudut pikiran,
sebagai rumus bertahan hidup:
> Jangan habiskan energi membuktikan benar pada yang tak ingin paham.
Setelah semua nya reda,
Kemudian cinta datang —
dengan wajah penuh logika moral,
mengatakan aku salah sebab menolak kritik.
Nyatanya, aku hanya menolak paksaan
yang menyamar sebagai kepedulian.
Ironis, bukan? Bahkan hati pun kini
ingin diberi rubrik penilaian.
Aku tertawa.
Sarkas, tapi lelah.
Beginikah dunia menilai jiwa pemburu diksi?
Diberi nilai C karena tak mengikuti kurikulum rasa?
Di titik itu aku sadar:
hidup ini memang ujian
yang jawabannya sudah disiapkan orang lain.
Dan nilai tertinggi hanyalah keberanian
untuk tetap menjawab dengan caramu sendiri.
Jadi aku menutup kertas jawabanku,
menulis di bawahnya:
> “Maaf, aku tidak menjawab salah.
Aku hanya memilih cara berpikir yang tidak diajarkan.”
Dan dari sana aku paham —
bahwa bijak bukan berarti tunduk,
rendah hati bukan berarti menurunkan makna.
Kadang, satu-satunya cara untuk lulus
adalah berhenti mengerjakan soal yang tak pantas dikerjakan.
Lalu aku kembali pada pena
yang tetap bergetar seperti detak jantung—
bukan karena takut salah,
tapi karena sadar:
setiap kata yang jujur
selalu menantang logika dunia
yang tak sanggup menghitung rasa.
___________
Karya: Sarah Bneiismael
Note: ISO 9001 adalah aturan agar perusahaan bekerja dengan “standar mutu” tertentu,
supaya hasilnya bisa dipercaya, terukur, dan tidak asal-asalan.
Komentar
Posting Komentar