Obat Bebas Terbatas (tentang ketergantungan pada seseorang yang tak lagi punya izin edar)
Obat ini dijual tanpa resep,
di rak paling bawah, berdampingan dengan analgesik dan ilusi harapan.
Aku membelinya dengan sisa kesadaran,
tanpa membaca kontraindikasi yang tertera di balik senyummu.
Dosisnya sederhana: dua tatap sebelum makan,
satu rindu menjelang tidur — jangan lebih, jangan kurang.
Efek sampingnya?
Detak jantung meningkat, nalar menurun,
dan sesekali rasa ingin mati yang terasa manis seperti parasetamol kadaluarsa.
Aku menelannya dengan air mata hangat,
membiarkan kenangan larut perlahan
seperti obat yang hancur sendiri
Rasanya getir dan sarkas.
Di brosur tertulis:
"Hentikan pemakaian bila muncul gejala cinta berlebihan."
Sayangnya aku keras kepala —
menambah dosis setiap malam,
Sebab diam tanpamu terasa seperti gejala putus zat bahagia.
Tubuhku mulai resisten,
reaksi simpangan terjadi di antara denyut dan doa.
Kata-kata tak bekerja seperti obat,
mungkin karena kadar hatiku sudah melewati ambang toksik.
Aku mencoba berhenti, tapi efek lanjutan terlalu dalam:
senyap di dada, nyeri di nadi, dan gema di kepala terngiang namamu.
Cinta pun, ternyata, hanyalah obat bebas terbatas —
dapat dibeli siapa saja,
tapi tak seorang pun benar-benar siap menanggung efek sampingnya.
Dan ketika aku menelan sisa terakhirnya,
aku baru sadar:
yang paling menyakitkan bukan kehilanganmu,
melainkan tubuhku yang kini terbiasa hidup
tanpa izin edar dari kamu.
________________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar