Parade para bayangan

Cinta bukan takhta di ruang pesta,
bukan mahkota yang diperebutkan di meja kaca.
Namun langkah asing terus berdatangan,
membawa obor kata,
membawa rayuan hampa,
mengira hati hanyalah permata murah
yang mendekati sama dengan sampah.

Mereka datang sebagai kesatria,
tapi kudanya terbuat dari asap,
pedangnya berkilau sebentar
sebelum karat menelan sinarnya.

Janji mereka ditulis di udara,
hilang sebelum sempat terbaca,
dan doa mereka hanyalah gema palsu
yang terpantul di dinding istana.

Di taman janji, mekar bunga ilusi,
merahnya menyala seakan abadi,
namun akarnya merambat sebagai racun.

Setiap tangan yang meraihnya
akan berdarah oleh duri,
tercabik oleh racun
yang mereka tanam sendiri.

Asmara bukan perhiasan peri,
ia naga purba yang menjaga bara.
Siapa pun yang mengira bisa memilikinya,
akan dijilat lidah api
hingga menjadi abu tanpa nama.

Hanya satu yang berhak menyentuh,
yang tahu bahwa cinta adalah perjanjian suci,
bukan permainan di aula ilusi.

Maka panggung pun terbuka:
persimpangan menjadi sandiwara.
Satu pintu menuju setia,
satu pintu menuju dusta.

Yang memilih dusta
hanya menemukan mahkota kertas di kepalanya,
berdansa di cermin retak
disoraki gagak yang berputar di menara.

Betapa satir lakon ini:
para pengagum mengira dirinya pahlawan,
Nyatanya hanya badut dalam parade murahan.

Seribu mulut merapal mantera,
seakan cinta bisa dibeli
dengan harga manis di bibir.
Namun yang palsu akan runtuh, yang rapuh akan hancur.

Kini klimaksnya tiba:
istana bayangan roboh,
mahkota kertas terbakar,
cermin retak pecah berkeping,
dan naga purba tertawa—
menelan semua dusta dengan api.

Yang tersisa hanyalah satu kebenaran:
lebih agung satu hati yang teguh
daripada seribu wajah yang berkerumun.

Sebab cinta sejati bukan pasar,
bukan permata tiruan yang bisa ditawar.

Ia bara, ia naga, ia cahaya,
dan hanya jiwa yang berani setia
yang mampu menatapnya, tanpa terbakar.

_____________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)