PENERBANG SUNYI
Luka? Oh iya, karena aku lupa rasanya. Di kepala, punda, dada, perut, tangan, kakiku...dan...ah iya luka itu sudah membatu
Ya, sayapku telah rapuh Tidak indah dan semegah dulu
Paruhku patah, tidak kokoh lagi, cakarku tumpul, tidak tajam lagi Dadaku koyak, tidak gagah lagi
Masa itu telah terlewat jauh
Dulu, mengepak bermandikan cahaya Kini, aku ingin menjauhi sinar menyilaukan mata Aku hanya rindu terlelap dalam dada yang telah tamat menunggu sempurna
Gemerisik dedaunan diterpa semilir, menyanyikan lagi suara yang tak mungkin lagi aku mendekapnya; "Elang ibu harus terbang jauh ke entah, carilah pelukan yg mampu menyatukan air segara dan api bara, memadukan salju dengan lahar lava. Pelukan ibu, tak lagi kau butuhkan. Namun jangan tertipu, doa ibu akan menuntunmu pada pelukan paling lembut di semesta!"
Sejak itu aku terbang sejauh sayapku bisa menuju entah. Pada lelah aku istirah. Aku tak sadar disana ada cahaya bias yang gemerlap. Namun melepas artinya pernah mendekap. Tak mungkin ada kata melepas bila tak pernah memeluk. Hanya karena burung-burung mendapat berita palsu, lalu mengabarkan dengan segala bumbu
Yang benar adalah; aku tak mungkin terbius kehangatan yg menipu
"Tapi apakah mungkin yang di hatinya pun penuh luka, hilang arah, bahkan tak tau lagi apa arti hidup sebenarnya, mampu menyembuhkan Elang terluka bahkan memberikan hangat dekapan, sepertinya itu percuma bahkan mungkin akan sia-sia?". Katamu
Lihat! Untuk memadamkan api, cukup guyurkan air
Dan lahar adalah api yg penuh luka, maka hanya akan padam oleh air dibekukan salju derita
Biarkan mahluk-mahluk lain bermain dengan segala keindahan, hingga lupa semakin mendekati jurang penuh batu tajam yg akan merajam. Dan di sini, kita sibuk saling mengobati sepenuh rasa
Maka mari kita menyelami tiada. Dada kita masih berdegup, nadi kita masih berdenyut, nafas kita berhembus bersama. Namun tak ada lagi tujuan kecuali melangkah seiring, hingga tiada yg sesungguhnya
Sebagaimana kemegahan yg aku cari, ternyata hanya fatamorgana Kesempurnaan yang kau tunggu hanya sia-sia. Aku telah berhenti mencarinya. Kamu pun harus menemukan titik ahirnya. Demikian juga luka, mesti kita lupa. Maka kata 'mustahil' itu tak ada lagi, kita pasti sanggup menghadapi waktu yang tersisa dengan bahagia yg mewah akan kesederhanaannya
____________________________
Gubuk Elang & Cemani, 2025
Karya: My Kembara
Komentar
Posting Komentar