Perempuan yang Menyiram Duri dengan Air Suci Lalu menangis saat tangannya sendiri terluka.

Ada perempuan yang menutup matanya dengan kain moralitas,
lalu berjalan seolah bumi ini terlalu kotor untuk disentuh kakinya.
Ia suka bicara tentang akhlak dan kelembutan,
padahal lidahnya lebih tajam daripada cermin yang ia gunakan untuk menilai wajah orang lain.

Setiap langkahnya terdengar seperti doa,
namun isinya sumpah serapah yang berpakaian sopan.
Ia lihai — sangat lihai —
memainkan nada rendah hati sambil menancapkan jarum kecil di reputasi orang.
Setiap senyum yang ia lempar bukan salam, tapi strategi.

Ia menyebut dirinya berpengalaman,
namun pengalaman itu hanya membuatnya mahir mengulang kebodohan dengan cara yang lebih elegan.
Katanya sudah dewasa,
tapi kedewasaannya seperti bunga plastik di meja makan — tampak hidup, tapi tidak pernah tumbuh.

Ia memuja Tuhan dengan bibir,
namun memuja dirinya sendiri di dalam hati.
Dan di antara jari-jari yang tampak lembut itu,
ia menggenggam bara gosip yang tak pernah padam.
Setiap nama orang lain adalah dupa,
dibakar perlahan agar ia bisa merasa lebih harum dari yang ia benci.

Aku kadang ingin tertawa —
betapa hebatnya ia menulis naskah fitnah
lalu membacakannya dengan suara serak penuh empati,
seolah ia hanya “khawatir” dan “peduli.”
Padahal ia sedang menikmati aroma kehancuran yang ia siram sendiri.

Ia pandai membuat luka terlihat seperti nasihat,
dan membuat iri tampak seperti keprihatinan.
Ia adalah puisi buruk yang bersikeras merasa suci,
dan dunia, entah kenapa, memberinya panggung.

Ketika akhirnya belati halus itu tertancap di punggungku,
aku tidak menjerit.
Aku hanya tersenyum,
karena aku tahu: yang menikam dengan doa biasanya mati oleh bisikan yang sama.

Aku tidak butuh membela diri.
Kebenaran tidak butuh klarifikasi —
ia hanya menunggu waktu untuk membusukkan kebohongan di bawah sinar yang sama.

Biarlah ia terus berkeliling, membawa kitab yang tidak pernah ia baca.
Biarlah ia terus bicara tentang kejujuran yang tidak pernah ia temui.
Sebab orang seperti itu tidak memerlukan musuh,
ia cukup menjadi dirinya sendiri untuk tersandung oleh bayangan yang ia ciptakan.

Dan aku?
Aku hanya berdiri tenang,
menonton pertunjukan yang selalu sama:
seorang perempuan yang menyiram duri dengan air suci,
lalu menangis saat tangannya sendiri terluka.

________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)