Peri yang tak pernah ada
Orang-orang kerap memahat bayangan tentangku,
seakan aku peri yang turun dari kisah fiksi,
sayapku berkibar dalam cahaya tak kasat mata,
suara nafasku dianggap mantra,
dan langkahku dikira denting ajaib
yang akan memecahkan harmoni dunia mereka.
Lucu sekali.
Aku bahkan sering tersandung batu kecil di jalan,
membiarkan hujan menempelkan lumpur di tubuhku,
dan duduk sendiri dengan pikiran yang kusut—
di mana letaknya sayap emas itu?
Di mana letaknya takhta
yang mereka takutkan akan runtuh bila mereka mendekat?
Aku hanya manusia biasa,
yang ingin menukar sunyi dengan obrolan sederhana,
yang butuh wajah lain untuk menjadi cermin,
yang tak malu mengakui: aku rapuh, aku lelah,
aku bukan makhluk cahaya yang mereka karang-karang.
Namun prasangka itu terlalu pandai menulis naskah.
Mereka lebih percaya pada dongeng
daripada pada nadaku yang jujur.
Mereka mendramatisir senyumku
seakan menyimpan rahasia kuasa.
Mereka menafsirkan diamku
seolah kesombongan yang disengaja.
Ah, betapa satirnya hidup ini—
aku dituduh sebagai sosok agung
padahal aku hanya ingin ditemani,
disapa tanpa curiga,
didekati tanpa ragu.
Ironi pun tumbuh:
aku yang mendamba kebersamaan
malah disingkirkan dari percakapan.
Aku yang mengulurkan tangan
malah dianggap menutup pintu.
Aku yang paling ingin dekat
justru dijaga jarak,
seakan aku racun,
atau setidaknya bayangan buruk
yang bisa mengganggu keseimbangan dunia kecil mereka.
Jika saja mereka tahu,
peri itu tak pernah ada di sini.
Yang ada hanya aku—
manusia yang haus kata-kata,
yang ingin belajar dari luka,
yang ingin membiarkan tawa sederhana
menjadi alasan esok terasa lebih ringan.
Tapi barangkali,
mereka lebih nyaman berdiam dalam fantasi.
Biarlah,
biarlah aku jadi tokoh fiksi dalam kepala mereka,
sementara aku akan terus melangkah sebagai manusia—
yang kadang salah,
kadang rapuh,
namun selalu mencoba jujur
dengan hatinya sendiri.
____________________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar