Petak umpet versi dewasa

Dulu kami bermain petak umpet
di tanah merah yang hangat,
menyembunyikan diri di balik pohon jambu,
di bawah meja, atau di pangkuan senja.

Yang jadi penjaga menutup mata,
menghitung pelan sambil menahan curiga.
Yang lain berlari —
menyembunyikan napas,
menyimpan degup agar tak ditemukan,
meski diam-diam ingin seseorang memanggil nama mereka.

Kami tertawa tanpa sebab besar,
karena dulu, bahagia tidak butuh alasan.
Berbohong terasa seperti bermain
bukan bertahan.

Lalu waktu menggulung lapangan itu.
Tanahnya mengeras,
warnanya hilang seperti kenangan dihapus layar.
Kini yang jadi penjaga
bukan lagi anak kecil,
melainkan mata yang menolak tertutup —
takut memantulkan wajahnya sendiri.

Yang bersembunyi pun makin lihai:
ada yang mengunci diri di balik jabatan,
ada yang menyamarkan dosa dengan nada rendah,
ada yang berdoa sambil memastikan kamera menyala.

Tawa sore telah hilang—
semua orang memantul pada citra yang sama:
benar, suci, dan berjarak.

Yang dulu cepat ketahuan kini dilupakan,
yang lama tak muncul jadi legenda.
Kami tertawa lagi,
tapi suaranya serupa upacara kehilangan.

Lucu.
Dulu penjaga hanya menghitung angka,
sekarang menghitung cela.
Dulu yang kalah hanya ganti jaga,
sekarang bisa kehilangan diri.

Aku pernah mencoba bersembunyi,
namun tanah kini terlalu kering
untuk menyerap kejujuran.

Sunyi dikira angkuh,
tertawa dianggap melawan.
Bahkan diam
dipelajari sebagai strategi bertahan hidup.

Kadang, dari sela semak waktu,
aku mendengar bisikan kecil:
“Kau masih bermain?”
Aku menoleh,
menemukan diriku yang dulu —
masih berdebu, masih polos.

Ia tersenyum getir,
menyerahkan sepotong tanah merah:
“Dulu kau bersembunyi agar ditemukan,
sekarang kau bersembunyi agar tak dihancurkan.”

Aku ingin menjawab,
tapi sirene, notifikasi,
dan doa yang tak sempat dikirim
mengubur kata-kata itu di dada.

Kini setiap orang jadi penjaga,
berlomba menemukan siapa yang paling salah.
Dan yang paling suci —
biasanya paling pandai menatap lantai
sambil berkata: “Aku hanya manusia.”

Malam turun perlahan,
membasuh tanah yang pernah hangat.
Aku menghitung dalam hati:
satu... dua... tiga...

Entah siapa yang sembunyi,
entah siapa yang masih ingin ditemukan.


---
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)