Bayang Dan Cahaya ( Renungan batin tentang kehilangan, kesabaran, dan kebangkitan jiwa)
Bayang:
Ada rumah di dalam dadaku.
Dindingnya retak,
atapnya menampung doa yang tak pernah kembali.
Aku duduk di tengahnya,
menghitung detak yang tersisa seperti jam tua yang kehilangan jarum.
Cahaya:
Bangunlah.
Rumah itu menunggu kau rawat, bukan kau ratapi.
Apa gunanya berdiam dalam reruntuhan
kalau debu tak lagi mengingat namamu?
Bayang:
Aku tidak mau.
Setiap kali aku mencoba berdiri,
lantai itu seolah menolak kakiku.
Ada rasa yang menahanku di sini,
rasa yang tak sanggup kuserahkan pada lupa.
Cahaya:
Tapi kau harus.
Rasa itu bukan rumah—
itu jerat yang menamakan dirinya kenangan.
Lepaskan, sebelum kau ikut terkubur di dalamnya.
Bayang:
Aku takut kehilangan!
Jika aku lepaskan,
apa yang tersisa dariku selain ruang kosong?
Cahaya:
Kekosongan justru ruang paling jujur
tempat cahaya belajar masuk, Maka
cobalah menyusun kembali dalam ruang kosong itu.
Bayang:
Tapi aku belum siap menjadi baru.
Aku masih mencintai reruntuhan ini—
bau tanahnya, retaknya, sunyinya...
semuanya mengingatkanku pada siapa aku dulu.
Cahaya:
Dan itu sebabnya kau tak pernah sampai ke esok.
Ketahuilah, Apa yang hilang darimu hanyalah sebagian kecil dari yang kau punya.
yang terlalu sempit untuk jiwa yang ingin tumbuh.
Cinta pada luka adalah bentuk lain dari penolakan terhadap sembuh.
Kau harus berani patah,
agar hidup bisa menulis ulang dirimu.
Bayang:
Aku tidak mau terluka lagi!
Aku sudah terlalu sering ditinggalkan oleh janji, bahkan
terlalu sering menunggu yang tak kembali.
Cahaya:
Justru, kau harus berani terluka sekali lagi—
tapi kali ini dengan sadar.
Biar darahnya bukan perih,
melainkan pemurnian.
Bayang:
Diam!
Aku sudah menelusuri semua luka yang sempat bernama rumah.
Aku sudah meneguk pahit dari cawan yang kau isi dengan janji,
dan kini kau datang lagi—membawa perintah, seolah aku masih utuh.
Kau kejam, kau gila,
mana ada yang ingin merasakan terluka kembali.
Sama saja, kau, menyuruhku berjalan di atas bara,
sementara aku bahkan tak punya kaki untuk melangkah.
Cahaya:
Bukan kejam, dan aku tidak gila.
bara itu bukan jalan buntu.
Dan aku yakin,
Kau mampu menghadapinya.
Langkahlah, meski gemetar—
sebab hanya mereka yang rela hangus,
yang akhirnya menemui cahaya.
Keberanianmu sedang ditunggu oleh takdir.
Bayang:
Bila kegagalan itu datang lagi, Bagaimana?
Jika setelah semua ini,
aku tetap bukan siapa-siapa?
Cahaya:
Maka jadilah bukan siapa-siapa.
Karena hanya mereka yang berhenti menjadi sesuatu,
yang bisa benar-benar menjadi segalanya.
Bayang:
Aku ingin pulang…
tapi bahkan kata pulang terasa asing—
seperti nama yang pernah kukenal, lalu hilang di antara gema doa yang tak sampai.
Setiap langkah yang kutemukan hanya berujung pada pintu yang menolak mengenalku,
dan setiap cahaya yang kupanggil
berubah menjadi bayangan dari masa lalu yang tak mau pergi.
Cahaya:
Pulang bukan sekadar tujuan,
ia bukan rumah yang bisa kau capai dengan kaki.
pulang adalah momen ketika dada berhenti berdebat dengan dirinya sendiri,
ketika keresahan dan keraguan akhirnya menunduk,
dan hati menemukan kesunyian yang menguatkan.
Diamlah sebentar…
dengarkan—
itulah rumah yang sesungguhnya:
yang tidak butuh pintu,
karena ia ada dalam dirimu
Bayang: Aku takut!
Cahaya: Maka tenanglah.
Bayang: Aku belum siap.
Cahaya: Maka biarkan waktu mengajarmu ikhlas.
Bayang: Aku tidak mau.
Cahaya: Kau harus !!!
Bayang: Kalau aku harus,
biar aku jatuh sekeras-kerasnya—
biar tubuhku remuk, biar suaraku pecah,
biar dunia tahu aku pernah melawan.
Aku lelah menahan, lelah pura-pura kuat.
Kalau memang harus berakhir di tanah,
biar semuanya terbakar,
biar aku hancur sampai tak tersisa,
asal dari reruntuhanku masih ada yang bisa disebut aku.
Kalau aku harus,
biarlah aku belajar jatuh dengan indah— setidaknya aku jatuh dengan jujur.
Cahaya: Ya. Karena dari jatuh yang tulus,
tumbuhlah kekuatan yang tak bisa diajarkan siapa pun.
Jangan takut rapuh, sebab dari sanalah keteguhan lahir.
Tak ada keberanian tanpa luka,
tak ada kebangkitan tanpa kejatuhan.
Yang terpenting bukan seberapa keras kau terjatuh,
tapi seberapa jujur kau berdiri setelahnya.
Dan ketika kau mampu menatap ke depan tanpa menyesali apa pun,
itulah saatnya kau benar-benar pulang pada dirimu sendiri.
Bayang:
Mungkin semua luka ini hanyalah madrasah jiwa,
tempat kita belajar bahwa kehilangan bukan akhir,
melainkan bentuk lain dari pemeliharaan yang tak kasat mata.
Cahaya:
Dan mungkin, hidup bukan tentang memiliki yang utuh,
melainkan tentang merawat yang tersisa
dengan hati yang ridha.
Bayang:
Aku mengerti kini…
bahwa yang disebut sembuh bukan berarti tanpa luka,
melainkan saat luka berhenti meminta penjelasan.
Cahaya:
Maka tenanglah—
karena tak ada yang benar-benar pergi dari jiwa yang telah memaafkan.
____________
Bayang dan Cahaya
.
.
.
" Renungan batin tentang kehilangan, kesabaran, dan kebangkitan jiwa "
Karya: Sarah Bneiismael & Tuan Kopi
Komentar
Posting Komentar