Rehabilitasi Logika

Aku hanya membaca,
tapi tampaknya suaraku dianggap kudeta.
Barangkali nadaku menyinggung peraturan tak tertulis
tentang bagaimana puisi seharusnya mencium kaki para penjaga selera.

Di rumah itu—Berlin, panti rehabilitasi logika—
tempat waras disembuhkan dari pikirannya sendiri,
tinggallah satu makhluk yang terlalu bangga mendengar suaranya sendiri.

Ia duduk di kursi moderator,
berwudu dengan kritik,
menyiramkan teori air suci
ke kepala siapa pun yang tak mau ikut berlutut pada tafsirnya.

Katanya puisiku terlalu merendahkan diri.
Padahal aku hanya menunduk,
menghormati kebodohan yang sedang berkhotbah
tentang moral kepenulisan dan etika diskusi,
sementara tangannya sibuk menutup mulut orang lain
dengan pita bertuliskan “aturan komunitas.”

Ia berbicara panjang,
mengira setiap kalimat adalah bukti kecerdasan,
mengira volume bisa menggantikan kedalaman,
mengira tepuk tangan sendiri adalah wujud kebijaksanaan.
Dan ketika aku mencoba menjelaskan,
ia menutup telinga—
katanya, agar objektivitasnya tak terkontaminasi penjelasan.

Namun keesokan harinya, aku di
boikot oleh tangan besar yang gemetar.
Ia takut pada bayangannya sendiri.
Ia bilang, “ini bukan personal, hanya soal etika.”
Tapi entah mengapa,
yang diusir selalu yang menolak ikut tepuk tangan.

Lucu, bukan?
Di dunianya, profesionalisme berarti patuh pada selera.
Kritik dianggap serangan,
perbedaan dianggap ancaman,
dan ketidaksetujuan disamakan dengan dosa literer.

Dia bicara tentang standar mutu,
Ia menolak disebut tidak profesional,
padahal yang dilakukan hanyalah menukar nalar dengan kuasa,
mengira memaksakan selera adalah bagian dari kurasi.

Dia menulis esai panjang tentang etika literasi,
namun menendang pembaca yang tak sependapat,
seolah-olah kebebasan adalah privilese
yang hanya boleh dimiliki oleh yang pandai mencium tangan editor.
Dia menuntut pujian atas “integritas,”
padahal integritas yang ia maksud adalah kemampuan
untuk menamakan penindasan sebagai tata tertib.

Kadang aku iri padanya 
yang bisa berdebat tanpa makna
dan menyebutnya beradab.
Barangkali kebijaksanaan memang tak lahir dari pikir,
melainkan dari kemampuan memoles kebodohan
hingga berkilau seperti teori akademik.

Aku biarkan saja.
Aku menulis dengan tinta dari ludah kesabaran,
di atas kertas yang terbuat dari keheningan.
Sebab sejarah—ah, sejarah—
selalu berpihak pada yang diasingkan,
yang menulis dengan kepala tegak
ketika yang lain sibuk mematut diri di cermin kewenangan.

Dan bila kelak ia membaca puisi ini,
biarlah ia berkata: “Ini pasti tentang orang lain.”
Sebab yang paling rajin menyunting semesta,
selalu lupa—
bahwa dirinya hanyalah catatan kaki yang mencoba menghapus pengarangnya.

______________
Karya: Sarah Bneiismael

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)