Republik Sirkus

Tirai panggung perlahan terbuka,
lampu menyorot janji yang terlupa,
suara tepuk tangan terdengar hambar—
inilah sirkus yang mereka sebut sidang bangsa.

Seekor singa gemuk berdiri di mimbar,
aumnya bergetar di pengeras suara dengan mulut basah oleh kuah anggaran,
dan cakarnya sibuk mengais amplop siluman.

Di ranting mikrofon, burung beo berkicau,
mengulang jargon seperti kaset rusak,
kata-kata dijual kiloan
dibungkus plastik dengan bonus sembako

Di lorong undang-undang, ular piton melata,
lidah bercabang menjelma pasal.
Ia melilit kritik seperti mainan,
Menjerat leher mahasiswa hingga kaku
sebelum sempat menyebut kata merdeka.

Tak jauh, babi hutan berguling di lumpur proyek,
terdengar tawa serakahnya,
perut membuncit oleh kontrak tikus,
sementara rakyat diberi kupon janji
yang lebih tipis daripada bungkus permen.

Kambing jantan naik ke kursi rapat,
mengumandangkan “keadilan sosial!”,
lalu menanduk rakyat sambil menjilat lutut oligarki
seperti anjing jinak yang menunggu tulang.

Di arena kampanye, kuda-kuda sirkus berlari melingkar,
dipacu musik dangdut dan lampu warna-warni,
penontonnya diberi tiket nasi kotak,
disoraki jargon sampai kehilangan arti,
lalu dipulangkan dengan stempel tinta ungu—
bekas yang lebih mirip luka daripada tanda kuasa.

Disawah, kerbau tua tetap membajak, punggungnya dicambuk. 
Tanah retak,
Peluh asin,
Lutut gemetar
Kebijakan dan hasil ladang raib di lumbung-lumbung yang dijaga anjing kekuasaan.

Inilah kebun binatang yang disebut republik:
di mana hewan-hewan berseragam jas
berkhotbah dengan lidah manis,
sementara kuku dan taring mereka
sibuk mencabik isi perut negeri.

Kami, penonton yang terlalu lama sabar,
tertawa getir di bangku reyot
menyaksikan parade binatang berkostum
yang menukar demokrasi
dengan lotere berhadiah dusta.

Ketahuilah
jeruji tak selamanya kokoh—
saat bau busuk kotoran mereka
menjadi racun di kandang sendiri,
rakyat tak lagi kerbau jinak

Kami adalah kawanan serigala lapar,
yang akan merobek tirai sirkus,
dan mengambil kembali panggung
yang pernah mereka rampas.

__________
Karya: Sarah Bneiismael 
Disempurnakan oleh: Kiky dan Tuan Kopi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)