Si Dungu dan Dunianya yang Munafik
Barangkali aku memang diciptakan untuk menonton kebodohan ini
tanpa boleh melempar kursi.
Segalanya tampak rapi—
dusta disetrika, lalu digantung di leher orang waras
seperti kalung penghargaan.
Lucu ya, betapa lembutnya cara orang menyiksa,
mengemas tuduhan dalam pita moral,
mengajarkan sopan santun
kepada yang sedang terluka.
Dan aku, si tolol yang berusaha mengerti,
masih sibuk mencari makna di balik cambuk,
membenarkan luka seolah itu pelajaran hidup,
padahal cuma cara halus dunia bilang:
“Diamlah, biar yang bersalah tetap tampak beradab.”
Kadang aku berpikir,
barangkali seluruh peradaban ini hanya panggung sandiwara,
di mana yang paling cepat menunduk akan dipanggil bijak,
dan yang jujur harus rela jadi badut,
menertawakan dirinya sendiri agar tidak dibakar opini.
Semua sibuk memainkan perannya—
yang munafik jadi guru moral,
yang pengecut jadi panutan,
yang berisik disebut pahlawan,
dan yang diam dituduh licik.
Sungguh, dunia ini pandai menukar makna
dengan selera mayoritas.
Aku menyaksikan orang-orang berpesta
di atas neraka,
bersulang dengan segelas empati palsu,
berteriak tentang kebaikan
sambil menginjak leher siapa pun yang tak ikut tepuk tangan.
Dan tetap saja,
aku duduk di tepi keramaian,
mencoba memahami mengapa aku harus minta maaf
atas sesuatu yang tidak kulakukan—
karena rupanya, sopan santun lebih berharga
daripada kebenaran yang tidak nyaman.
Aku muak—
bukan pada mereka,
tapi pada caraku terus berusaha memahami mereka
yang sudah lama berhenti berpikir.
Kini waras terasa seperti penyakit kronis
yang membuatku tersenyum saat ditampar,
meminta maaf karena tak pandai berpura-pura.
Barangkali benar,
kedunguan memang anugerah paling mulia di zaman ini—
asal bisa menunduk,
asal bisa bilang “maaf”
dengan suara yang indah.
Dan lihatlah, betapa mulusnya pertunjukan ini:
para penuduh berdiri di altar sopan santun,
memainkan drama penyesalan versi mereka,
sementara yang dituduh belajar berterima kasih
karena masih diberi kesempatan untuk disalahkan.
Kadang aku ingin tertawa sampai muntah,
melihat bagaimana kebohongan bisa berwajah teduh,
menyebut dirinya “tenggang rasa”,
lalu menepuk pundak korban sambil berkata:
“Begitulah cara menjadi dewasa.”
Ah, biarlah.
Dunia mau busuk, mau tersusun rapi, mau memuja kebohongan sendiri,
aku tidak peduli lagi.
Sopan santun mereka hanyalah lendir kering dari kepalsuan yang menempel di langit-langit moral,
tuduhan mereka hanyalah angin busuk yang lewat tanpa arti,
seluruh kebaikan mereka hanyalah pakaian lusuh yang menutupi kebobrokan,
dan aku?
Aku cukup duduk, muak, lelah, bodo amat,
menikmati kenyataan bahwa kedunguan kadang memang satu-satunya cara tetap waras
di dunia yang memuja sampah dan suka menabur garam diatas luka orang lain.
________________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar