Sunyi yang berisik
Barangkali aku terlalu sibuk memuja makna,
hingga lupa bahwa diam pun punya doa.
Kuseret pena ke tepi logika, sedangkan tintanya memilih jatuh ke oblivion.
Setiap huruf menatapku seperti hakim,
menyidang dosa karena ingin mengartikan yang tak tertim.
Oh, betapa angkuhnya pikiranku—
mengira bisa merangkum keindahan dalam satu rindu.
Indah, katanya sekaligus tajam di sisi,
bening, lalu menenggelamkan isi.
Ia bukan apa-apa, tapi menguasai segalanya,
bukan cinta, tapi membuatku kehilangan makna.
Aku menulis tentang sunyi yang berisik,
tentang luka yang memeluk dengan cara paling klasik.
Tentang api yang membeku di tengah musim kritik,
tentang damai yang justru membuatku statik.
Lucu ya—
betapa manusia pandai berdusta dengan diksi,
menyebut kehilangan sebagai puisi,
Meyakini sepi sebagai bukti.
Barangkali begini cara semesta bersandiwara:
yang hampa terlihat penuh,
yang indah menyamar sebagai bencana,
dan yang terlalu nyata justru tak bisa disentuh.
Aku berhenti di antara dua absurditas:
ingin menulis, tapi takut pada kata,
ingin diam, tapi takut tak ada makna.
Maka biarlah—
aku mencintai kebisuan ini seperti seorang biduan tua
yang bernyanyi di panggung kosong
untuk tepuk tangan yang tak pernah tiba.
___________
.
.
Oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar