Tikus di lorong belakang

Seekor tikus gemar berbisik di lorong belakang,
Riuh di tumpukan sampah,
menyusun cerita lalu menjualnya.

Menyindir dengan taring
seolah kata-katanya bisa menundukkan langit,
padahal hanya meneteskan ludah pahit
yang menguap sebelum menyentuh tanah.

Lucu sekali,
yang menuduhku murah adalah mereka
yang menjajakan
harga dirinya sendiri.

Apakah aku harus menawar?
Tidak. Aku hanya penonton
yang tahu kualitas kain dari benangnya.

Kau pikir dengan bisikanmu,
orang-orang akan buta dan tuli?

Sayang sekali, mereka dewasa,
mereka tahu bedanya emas dan kawat.

Fitnahmu berisik, nyolot,
Tak berbobot—
seperti tong kosong dipukul keras
agar terdengar nyaring padahal hampa.

Aku muak? Iya.
Kesal? Tentu.
Tapi kebijaksanaan menuntunku
untuk tidak berenang di kolam keruh
yang kau isi dengan lumpur.
Aku tidak ingin tanganku kotor
hanya untuk membalas najismu.

Lidahmu panjang,
Namun tali kebenaran lebih panjang lagi.

Dan percayalah—
tak ada karung yang bisa menutup busuk bangkai selamanya.

Kebenaran akan keluar
meski kau tutup dengan seribu kebohongan.

Ketahuilah, diamku bukan kekalahan 
Diamku adalah benteng,
adalah caraku menjaga diri
dari racun yang bahkan ular pun malu mengakuinya.

Aku memilih jalan sunyi,
jalan orang-orang yang berwibawa.

Sebab hanya anak kecil yang merasa hebat
dengan merusak nama baik orang lain.

Maka teruslah menyalak,
anjing di jalan pun tahu
bahwa suara keras tak pernah merubahnya jadi singa.

Teruslah menebar dengki,
Sebab pada akhirnya,
kau hanya akan tenggelam dalam kubanganmu sendiri.

Dan ketika semua riakmu meluruh
orang-orang akan melihat jelas:
yang benar tak butuh pembelaan,
yang palsu tak bisa diselamatkan.

Ingatlah—
yang kau cemari bukan namaku,
tapi kehormatanmu sendiri.
Yang kau patahkan bukan langkahku,
tapi cermin tempat kau menatap diri.

Aku sudah memilih:
mengabaikanmu, seperti angin melewati abu.
Sebab aku tahu,
tak ada kewibawaan dalam menyalakan api kebencian.

Dan aku, tak akan pernah
menyediakan bensin untuk apimu.


________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Oktober, 2 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)