Aku Berhenti Menjadi Korban
Ada saat ketika aku mengira
setiap yang kupeluk akan abadi.
Dunia:
Rupanya, selalu menyiapkan langkah
di balik gemerisik rahasia
yang belum pernah menjangkau tepi pendengaranku.
Di telapak tanganku
ada garis-garis yang semakin dalam
Sebab aku menahan sesuatu
yang sejak lama memohon untuk dibiarkan luruh.
Malam datang
dengan baunya yang teduh,
mengajari aku bahwa kehilangan
tak pernah benar-benar merampas apa pun—
ia hanya memindahkan beban
ke tempat yang lebih siap menampungnya.
Pelan, harapan di dadaku mencair
seperti embun yang menyerah pada matahari;
penyesalan pun beterbangan,
menjadi serpih angin yang tak memerlukan petunjuk.
Aku berhenti memahat diriku
sebagai korban dari apa yang sudah lewat;
setiap detik yang jatuh
menghapus bayangan-bayangan
yang dulu kukira bagian dari napasku.
Dan ketika genggaman itu akhirnya kulepas,
ruang kosong yang tertinggal
tidak menyergapku dengan sunyi;
ia justru membuka sejenis jalan pulang—
tempat aku belajar menjadi ringan,
menjadi jernih,
menjadi manusia yang tak lagi takut
pada bentuk baru kehidupan.
Di sana, di sela jeda yang tenang itu,
aku mendengar diriku tumbuh:
perlahan, tanpa gaduh—
seperti rumput yang tak pernah memaksa,
namun selalu tahu ke mana semesta menyalakan arah.
____
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Note; Naskah ini menggambarkan betapa lega rasanya ketika sesuatu yang lama digenggam akhirnya dilepas—seakan ruang yang kosong justru memberi napas baru, menghadirkan diri yang lebih ringan dan lebih siap menerima bentuk hidup yang berikutnya.
Komentar
Posting Komentar