Aku bisa sendiri
Aku telah berkali-kali kehilangan,
hingga jantungku belajar berdetak sendiri,
tanpa perlu irama dari langkah siapa pun yang pergi.
Setiap wajah yang datang adalah denyut sementara,
yang membuat nadiku melonjak,
lalu surut—meninggalkan sunyi seperti ruang paru
yang tak lagi ingin diisi napas siapa-siapa.
Lalu kesendirian datang,
menyusup seperti darah yang mencari jalannya sendiri,
merayapi sendi-sendi yang dulu rusak oleh perpisahan,
membisikkan: “Lihat, kau masih hidup, meski tanpa siapa pun.”
Ia tidak menghukum,
ia mengalir—menjadi sumsum tempat aku menumbuhkan keberanian baru,
menjadi hati yang menampung sisa indah dari luka-luka lama,
menjadi kulit yang paham,
bahwa setiap sentuhan pun punya masa usai.
Saatnya aku membuka pintu setiap hari
tanpa tanya siapa yang datang,
tanpa tangis pada yang pulang.
Hidupku adalah tubuh,
dan aku jantung yang menentukan iramanya sendiri.
Akhirnya aku tahu—
kehilangan bukan kematian,
melainkan regenerasi sel dari rasa yang telah mati.
Dan jika esok ada yang datang,
aku akan sambut dengan hangat,
namun tak akan kugantungkan napasku padanya.
Sebab aku telah belajar,
bahwa menjadi hidup sepenuhnya
adalah merelakan sebagian diriku
untuk mati berkali-kali — agar bisa lahir kembali.
_____________
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Note: Puisi ini menggambarkan kehilangan sebagai proses alami untuk menemukan kembali diri. Melalui metafora organ tubuh, saya menunjukkan bahwa kesendirian bukan kutukan, melainkan fase penyembuhan di mana jiwa belajar berdetak sendiri. Kehilangan di sini bukan akhir, tetapi bentuk regenerasi rasa—cara hidup untuk tumbuh dan lahir kembali dari luka.
Komentar
Posting Komentar