Arti Bertahan
Kadang kita lupa bahwa hati tidak keras seperti batu.
Ia adalah hutan kecil yang tumbuh perlahan—
tempat ranting-ranting rapuh belajar berdiri,
tempat cahaya singgah meski tersesat,
tempat hujan turun untuk menghidupkan kembali
apa yang sempat mengering oleh perjalanan.
Memang butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan.
Tidak semua hal bisa diterima dalam satu tarikan napas;
ada luka yang enggan dipulihkan,
ada kenangan yang diam menempel seperti bayangan yang tidak mau pergi.
Ada rasa yang perlu dilunakkan,
seperti gula yang mengeras oleh malam
namun mau mencair ketika disentuh hangat.
Ada harapan yang perlu dilepaskan,
seperti burung yang terlalu lama digenggam
hingga kita lupa bahwa ia selalu membutuhkan langit.
Dan di antara semua itu, hati akhirnya memahami
bahwa menerima adalah cara lembut
untuk menjaga diri tetap utuh,
agar tidak pecah oleh hal-hal yang sudah tidak sejalan dengan langkah kita.
Sebab hidup tidak selalu hadir sesuai doa yang kita panjatkan.
Kadang ia datang sebagai ombak besar
yang menggulung habis apa yang kita jaga dengan kedua tangan.
Kadang ia bertengger di pundak kita
seperti senja yang warnanya terlalu berat.
Namun anehnya, di tengah semuanya,
kita tetap menemukan napas
untuk melanjutkan langkah meski terasa limbung.
Hati manusia menyimpan keajaibannya sendiri:
ia bisa hancur berkali-kali namun
tetap mampu menumbuhkan keberanian untuk berharap.
Ia bisa runtuh seperti tembok tua yang mampu
tetap berusaha menyusun dirinya kembali,
bata demi bata,
kesadaran demi kesadaran.
Dan mungkin inilah inti perjalanan yang panjang ini:
belajar bersikap lembut pada diri sendiri.
Belajar mengatakan pelan, “Aku sedang tumbuh, tidak gagal.”
Belajar mengikhlaskan hal-hal yang memilih pergi,
agar dada kembali lapang
untuk sesuatu yang lebih jujur dan selaras dengan langkah kita sekarang.
Jika hari ini terasa berat, ingatlah:
rembulan pun menghilang beberapa malam
sebelum kembali membawa cahaya yang lebih jernih.
Begitu pula kita—terkadang perlu meredup sejenak
agar bisa kembali sebagai diri yang lebih kuat.
Dan suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang,
kamu akan melihat bahwa semua rasa sakit itu
datang untuk menuntunmu pulang
kepada dirimu yang paling tabah,
paling lembut,
paling mengerti arti bertahan.
_________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar