Beri hamba uang
Kota merenggangkan kulit malamnya, membiarkan lampu-lampu berpendar seperti luka yang dipoles agar tampak indah.
Uang muncul dari celah-celah gelap, bergerak setenang racun yang tahu di mana letak jantung manusia bersembunyi.
Ia menyentuh leher seseorang—dingin dan licin—membuat napasnya pecah menjadi bisu.
Dalam sentuhan itu, pikirannya retak; moral yang dulu tegak mulai roboh seperti tulang rapuh yang dipeluk terlalu keras.
Di sebuah klub, uang menautkan dirinya pada pinggang seorang gadis yang dulu begitu percaya pada batas-batas tubuhnya.
Ketika uang menekan punggungnya, ia mendengar getar asing—getar yang menukar masa depan dengan sebuah jamuan yang memabukkan.
Seorang pria di sudut ruangan meminum bayangannya sendiri, sebab uang meremas pundaknya dengan kelembutan yang mengancam.
Dalam remasan itu, harga dirinya mengecil menjadi serpihan yang bisa ditiup pergi tanpa ia sadar kapan hilangnya.
Di kamar hotel, uang membaringkan tubuh seseorang yang dulu berteriak lantang tentang kebenaran.
Tanpa permisi, uang merayap naik di sepanjang tulang dadanya, mencari denyut terakhir yang masih berani menolak.
Gigitan lembut itu menjatuhkan hal-hal yang pernah suci di tubuhnya satu per satu.
Ia merelakan segalanya demi sentuhan yang menjanjikan kuasa—meskipun ia tahu kuasa itu palsu, gelap, dan buta.
Di rumah sakit, uang menempel pada pipi seseorang yang nyaris kehilangan hidup.
Sentuhan itu dingin dalam ketakutan; uang seperti dewa tak terlihat yang mampu memperpanjang denyut atau mencabutnya seketika.
Kota pun bersujud enggan berdoa, sebab bisikan uang mendoktrin pikiran serupa desah yang mengajarkan manusia cara baru untuk mengkhianati dirinya sendiri.
Dan akhirnya, uang mendekatkan wajahnya pada manusia, menggigit bibir pelan hingga suara pecah; tubuh bergetar, dada ditekan sampai gairah dan rasa takut bercampur.
Pada detik itu manusia paham—semua yang tersisa hanyalah diri yang telah tunduk, tanpa sempat diselamatkan.
______
Karya: Sarah Bneiismael Tanpa Suara
Komentar
Posting Komentar