Bung, Negeri ini Lupa Malunya



Bung,
jika kau menatap negeri ini dari atas sana,
mungkin kau akan tertawa — atau muntah.
Sekarang bangsa ini terlalu pandai berdandan dengan kata bangga,
padahal hatinya jahat dan penuh kompromi.

Mereka berbaris tiap tanggal tujuh belas,
mengangkat tangan, menatap bendera,
tapi tak tahu — merah itu bukan sekadar warna,
itu darah yang dulu tumpah agar kita tak lagi tunduk.

Namun lihatlah, Bung,
kami — rakyat di tanah ini —
masih sibuk menunduk, bukan karena hormat,
melainkan takut kehilangan pekerjaan,
takut bicara jujur, takut lapar.

Getir, Bung… getir menjadi rakyat di tanah yang katanya merdeka,
tapi masih harus menunggu izin untuk bermimpi.

Lagu kemerdekaan masih dinyanyikan:
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.
Tapi jiwanya disewakan,
badannya dilelang,
dan pikirannya disandera oleh tagihan dan janji palsu.

Bung Hatta mungkin akan menulis lagi tentang kejujuran,
lalu disebut utopis oleh mereka yang lihai menukar dosa dengan donasi.

Tan Malaka pasti tersenyum pahit —
melihat logika dibungkus rapi dalam slogan pembangunan.

Dan engkau, Bung Karno,
mungkin akan berdiri lagi di podium, suaramu bergetar:
“Apakah ini yang kalian sebut kemerdekaan?”

Pahlawan tinggal nama,
terpajang sejajar dengan Wi-Fi dan piagam penghargaan.
Anak-anak menghafalnya dengan malas,
sambil menunggu kuota gratis dari kementerian.

Mereka memanggilmu Bapak Bangsa,
Tapi melupakan pesanmu
lebih cepat dari mereka mengganti status media sosialnya.

Oh, Bung, negeri ini lucu —
ia membenci penjajah, tapi mencium tangan tirani lokal.
Ia menolak perbudakan, tapi menjual nurani
demi fasilitas, promosi, dan rasa aman yang meninabobokan.

Bung, aku muak menyebut kata merdeka.
Kini merdeka berarti:
bebas mencuri asal tak tertangkap,
bebas bicara asal sejalan,
bebas berpikir asal tak berbeda.

Dan ketika lagu kebangsaan bergema lantang,
kami, rakyat di tanah ini 
menunduk bukan karena hormat,
tapi karena malu.

Sebab yang dirayakan bukan kemerdekaan,
melainkan kebiasaan:
menangisi masa lalu yang tak lagi di pahami,
sambil menepuk dada atas negeri
yang perlahan kita jual
dengan senyum yang disebut;
Cinta tanah air.


__________
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Analisis:
 Puisi “Bung, negeri ini lupa malunya” – Karya: Sarah Bneiismael

Puisi ini menyoroti ironi kemerdekaan di negeri yang kehilangan rasa malu dan nurani. Dengan gaya satir dan kontemplatif, penyair menegur bangsa yang bangga secara simbolik namun tunduk secara moral.

Panggilan pada “Bung” menjadi dialog imajiner dengan para pendiri bangsa, menegaskan jurang antara idealisme perjuangan dan realitas kemunafikan masa kini. Diksi seperti “jiwanya disewakan” dan “pikirannya disandera” memperkuat kritik sosial lewat personifikasi yang tajam dan menyakitkan.

Nada getir, sarkastik, dan reflektif menjadikan puisi ini bukan sekadar keluhan, tapi renungan pahit tentang kemerdekaan yang kehilangan jiwa.

Kesimpulan:
Puisi ini berdiri seperti cermin retak di depan wajah bangsa — memantulkan luka, kebanggaan palsu, dan amnesia sejarah. Ia bukan sekadar seruan kepada Bung Karno, melainkan tamparan bagi generasi yang masih mengibarkan bendera di tiang tinggi, tapi menundukkan hati pada ketakutan dan kepentingan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)