Cinta seharusnya mengarah ke langit

Cinta adalah rahasia yang diselipkan di dada manusia,
bukan rasa yang tumbuh dari tatap,
ia adalah cahaya yang menuntun jiwa menemukan arah pulang.
datang tanpa suara,
menetap tanpa janji,
Menjadi alasan bagi hati untuk beriman pada kehadiran yang tak terlihat.

Cinta bukan sekadar hadir di antara dua insan,
ia lahir dari ruang sunyi tempat hati bertemu niat.
Bukan dari pandang yang jatuh di mata,
melainkan dari rahasia yang dbisikkan dalam doa.

Ada cinta yang tak menyentuh, tapi melindungi,
yang tidak berjanji selamanya,
namun membuat waktu seolah berhenti setiap kali namanya disebut dalam sujud.

Ia tidak menuntut jarak,
Sebab tahu jarak hanyalah ujian
untuk melihat siapa yang mencintai tanpa menggenggam.

Cinta sejati bukan panas yang membakar,
melainkan cahaya yang menuntun gelap menuju tenang.
Ia datang lembut seperti angin yang mencium dedaunan,
lalu pergi diam-diam tanpa meninggalkan luka.

Jika cinta itu hadir dari-Nya,
ia akan membuatmu tunduk tanpa diperintah,
teguh tanpa dipaksa,
dan rela tanpa pamrih.

Lihatlah, betapa lembutnya cinta yang benar —
ia membuat dada sempit terasa lapang,
ia menjadikan tangis sebagai bentuk syukur,
dan kehilangan sebagai pelajaran menuju ridha.

Cinta bukan urusan siapa menggenggam tangan siapa,
ini tentang siapa yang menggenggam iman saat diuji oleh rindu.
Bukan siapa yang paling sering hadir di samping,
melainkan siapa yang paling dalam mendoakan dari jauh.

Jika tubuh bisa bersandar,
biarlah jiwa yang bersujud lebih lama.
Sebab cinta yang baik bukan milik dua hati,
ia adalah pertemuan tiga: aku, engkau, dan Allah di tengahnya.

Cinta yang benar tidak menyilaukan,
ia menerangi.
Tidak mengikat,
ia menguatkan.
Ia tidak memohon pengakuan dari dunia,
cukup Allah yang tahu bagaimana dua jiwa saling menjaga dalam diam.

Dan bila akhirnya harus berpisah,
cinta itu tidak mati —
ia hanya berubah menjadi doa yang terus berjalan
menuju langit,
sampai Tuhan menjawab dengan cara yang lebih indah dari kata “selamanya.”


__________________
Karya: Sarah Bneiismael 
.
.
.
Note puisi:
 “Cinta seharusnya mengarah ke langit” menegaskan bahwa cinta sejati adalah ketenangan yang tumbuh dari keikhlasan dan dipelihara oleh iman. Ia tidak meminta untuk dimiliki, sebab hakikatnya adalah memberi tanpa kehilangan diri.

Cinta menjadi cerminan kasih Ilahi — hadir bukan untuk memuaskan hasrat, melainkan untuk menuntun manusia mengenal makna pengorbanan, kesetiaan, dan kedewasaan jiwa. Dalam kediamannya, cinta berbicara paling jujur: bahwa yang abadi bukan sentuhan, melainkan niat yang tulus menuju ridha Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)