Desonansi Sosial (tentang luka yang diciptakan sistem, dan seni untuk tetap merasa di tengah kehilangan makna)

Ada yang aneh di sistem sosial kita:
rasa sakit tumbuh di tempat yang tak pernah disakiti.
Seolah tubuh tahu lebih dulu
bahwa penyentuhnya bukan lagi manusia,
melainkan algoritma peniru empati.

Kata-kata manis bergulir seperti protokol,
tersusun rapi, terekam otomatis,
semuanya terdengar Valid—
Sedangkan maknanya telah dikubur sebelum sampai di telinga.

Setiap kalimat hanyalah residu niat baik,
bekas dari manusia yang pernah benar-benar ingin peduli.

Mereka bicara tentang simpati,
menyebut kata “peduli” sambil meneguk tawa
di cangkir yang sama
dengan nama yang kusebut dalam doa paling sunyi.

Mungkin ini bentuk lain dari disonansi emosional:
bising antara percaya dan keinginan untuk mati rasa.

Aku menatap wajah-wajah yang memeluk tanpa menyentuh,
menjadi hangat sebab algoritma berkata begitu.
Rasa aman terasa seperti ilusi berbayar,
dan aku—bukan pelanggan prioritas.

Setiap hubungan memiliki durasi dan versi beta,
diperbarui sesuai tren emosi dan waktu luang.
Cinta dikonversi jadi notifikasi,
kejujuran diubah jadi template,
dan luka—dijadikan konten.

Di tengah absurditas ini,
ada hal kecil yang masih bisa diselamatkan:
kesadaran bahwa tidak semua kebisingan harus dimengerti.
Tidak setiap kehilangan butuh pengganti,
dan tidak setiap sunyi adalah musuh.

Mungkin bersikap waras berarti
menerima bahwa dunia tidak akan lagi sepenuhnya hangat.
Dan rasa pedih tak selalu minta diobati—
kadang hanya perlu disaksikan tanpa menghakimi.

Belajarlah bernafas tanpa menunggu pemahaman,
menyiram luka dengan kejujuran,
dan membiarkan absurditas tetap absurd,
karena justru di sanalah letak kemanusiaan terakhir:
di antara rasa sakit yang tak bisa dijelaskan,
dan keberanian untuk tetap merasakannya.

_______
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)