Di Ulu Luka Mu
Aku menyingkap tabir yang sejak lama kugembok dengan keras kepala:
bahwa aku telah kehilanganmu—
Seperti matahari yang tercabut dari singgasananya,
membuat langit bergetar dan ruang bergema oleh sunyi yang menusuk sampai ke tulang waktu.
Kucoba menahan langkahmu dengan seluruh musim yang pernah memihakku,
namun kakimu adalah kafilah bintang yang memilih rasi lain untuk beristirahat.
Dan jika hatimu telah pergi,
apa yang tersisa untuk kupeluk selain bayang-bayang yang menolak mengenali dunia mana pun?
Sapaan pagi menjelma abu,
kerinduanmu yang dulu menari ringan ke arahku
kini duduk di sudut waktu,
mengalihkan wajahnya seperti peri kecil yang kecewa pada harapanku.
Aku memohon maaf pada langit dalam dadamu
yang dulu kutempati dengan badai tanpa izin.
Pada panah-panah kecil dari egoku
yang menembus ketenanganmu
hingga cahaya yang pernah kau titipkan di mataku ikut tersedu.
Maaf untuk cinta yang tumbuh menjadi raksasa haus,
meneguk beningmu sampai hanya menyisakan serpih-serpih yang gamang.
Maaf untuk sunyi yang kubiarkan tumbuh seperti belukar,
membuatmu tersesat di hutan yang seharusnya kujaga tetap lembut.
Meski semesta meretakkan punggungku,
aku tetap berterima kasih pada Tuhan
karena pernah mengizinkanmu menyeberang hidupku—
seperti angin gunung yang membisikkan mantra pada batu,
mengajari keras kepalaku membaca bentuk-bentuk kelembutan.
Kau pernah menjadi kain hangat yang membalut tulang-tulangku
ketika aku hanyalah malam yang lupa cara bernapas.
Tetapi jarak tumbuh dengan kelicikan yang lembut,
seperti bayangan yang memanjang tanpa kita tahu matahari mana yang memerintahkannya.
Kubawa seluruh hangatku padamu,
namun dinginmu merayap ke kulitku dengan kesabaran seorang penjaga makam.
Kuketuk pintumu lagi dan lagi,
dan pintu itu berubah menjadi batu yang menua tanpa niat menyerah pada waktu.
Sayang…
jika pedih telah menjadi bahasa yang tubuhmu pahami tanpa perlu berpikir,
jika sembilu telah berdiam di ulu hatimu tanpa rencana pulang,
maka pergilah.
Biarkan jalan memilihmu.
Tak perlu bertahan demi hatiku yang kupaksa tampak tegap
padahal di dalamnya berontak saling mematahkan sayap.
Mencintaimu sambil menahankanmu
Sama saja mengiris nadiku sendiri dengan kenangan.
Seperti menempatkanmu dalam ruang yang menyusut perlahan
hingga napasmu kehilangan namanya.
Pergilah jika itu memberi terang pada langkahmu.
Biarkan aku menjadi makam sunyi bagi semua yang tak lagi ingin kau simpan.
Aku akan tetap mencintaimu dengan cara yang tidak pernah belajar logika,
mengikhlaskanmu dengan cara yang tak pernah selesai,
dan gagal menanam benci di tanah tempat namamu dulu hadir sebagai benih yang pernah tumbuh, mekar dan indah.
Sebab siapa pun yang pernah tinggal di tulang rusukku
takkan pergi tanpa mengguncangkan langitku.
Dan jika langkahmu adalah keselamatanmu,
biarkan kepergianmu menjadi pisau yang kutancapkan ke jantungku.
pisau yang memberitahuku bahwa:
Cinta paling luhur adalah cinta yang rela mati
agar kau dapat hidup sepenuhnya.
_________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar