Dialog : Dua bagian dari diri saling bicara
Prolog:
Sebelum percakapan ini mengalir,
ketahuilah bahwa yang berbicara di sini
adalah dua ruang terdalam dalam diri:
jiwa yang lama menyimpan gemuruh,
dan raga yang terus berdiri walau tulangnya gemetar.
Mereka saling memanggil di tengah keheningan,
menyentuh luka yang tak pernah diucapkan,
menyampaikan keluh yang hanya mereka berdua yang tahu.
Inilah saat ketika tubuh berhenti berpura-pura kuat,
dan batin berhenti bersembunyi.
Saat ketika dua bagian diri
akhirnya duduk berhadapan
untuk mengatakan kebenaran yang selalu tertahan.
.
.
.
RAGA:
Aku… Raga.
Yang dipaksa tegar.
Yang disuruh berdiri bahkan ketika dengkulku ingin patah.
Yang dipuji karena kuat,
Padahal aku hanya pandai menyembunyikan roboh.
JIWA:
Dan aku… Jiwa.
Yang kau suruh diam.
Yang kau ikat dengan perintah “jangan lemah.”
Yang sejak lama bergetar,
namun kau paksa tersenyum untuk menyenangkan dunia.
RAGA:
Jiwa… mengapa kelammu menjalar sampai ke tulangku?
Setiap pagi aku bangun seperti menanti vonis.
Setiap malam aku tidur seperti dikubur perlahan.
Aku tidak berdarah—
tapi sesuatu di dalamku
seperti sedang sekarat tanpa suara.
JIWA:
Karena engkau meninggalkanku, Raga.
Engkau membiarkan aku membusuk
di ruangan yang terus kau kunci dari luar.
Engkau tertawa dengan orang lain,
sementara aku menjerit sendirian
sampai suara sendiri menjadi asing.
RAGA:
Aku tidak tahu…
aku tidak tahu bahwa kau sebegitu luka.
JIWA:
Tentu tidak.
Karena engkau sibuk menyelamatkan dunia,
tetapi tidak pernah menyelamatkan dirimu sendiri.
Engkau mengatakan
“Aku baik-baik saja”
padahal aku—aku tenggelam sambil memanggil namamu.
RAGA:
Mengapa engkau menghitam seperti ini?
Aku takut.
Takut masuk ke dalammu.
Takut pada isi yang tidak bisa kuperbaiki.
JIWA:
Ketakutanmu terlambat, Raga.
Aku sudah lama gelap.
Bukan karena aku ingin,
tapi karena setiap kali aku rapuh,
kau menolakku,
kau mencaci,
kau bilang aku memalukan.
Engkau lupa:
yang kau hina itu dirimu sendiri.
RAGA:
Jiwa…
jangan bicara seperti itu.
Aku sedang runtuh mendengarnya.
JIWA:
Bagus.
Akhirnya engkau merasakan sedikit dari apa yang kutanggung.
Selama ini aku menahan badai,
kau hanya menahan napas.
Kau tahu apa yang paling menyakitkan?
Melihat tubuhmu tersenyum di hadapan dunia,
sementara aku merintih di tempat yang tak seorang pun mau datangi.
RAGA:
Sampai kapan kau ingin aku menyesal?
JIWA:
Sampai engkau berhenti berpura-pura hidup
padahal setiap malam engkau berharap tidak bangun.
Sampai engkau mengakui bahwa kekayaan, gelak tawa,
seluruh kenikmatan dunia—
tidak ada artinya
ketika aku—rumahmu—
sedang terbakar dari dalam.
RAGA:
Tolong…
Ajar aku memperbaiki ini.
Aku benar-benar takut kehilanganmu.
Jika kau pergi—aku kosong.
Jika kau hancur—aku mati.
JIWA:
Engkau sudah kehilangan sebagian dariku, Raga.
Tapi sisa yang masih hidup ini—
aku memberikannya padamu
jika engkau berani menatapku tanpa lari.
Aku tidak butuh disembuhkan,
aku butuh diakui.
Aku tidak butuh diselamatkan,
aku butuh ditemani.
Aku tidak butuh kau kuat,
aku butuh kau jujur.
RAGA:
Aku…
Aku lelah menjadi tubuh yang pura-pura hidup.
Aku lelah menutupi ratapmu dengan senyum palsu.
Aku lelah menjadi tembok bagi diriku sendiri.
Jiwa…
jika kau ingin menangis,
menangislah.
Jika kau ingin jatuh,
jatuhlah di atas namaku.
Jika kau ingin hancur,
hancurkan aku sekalian.
JIWA:
Raga…
aku tidak ingin menghancurkanmu.
Aku hanya ingin kau duduk bersamaku
di ruang yang selama ini kauhindari.
Aku ingin engkau mengatakan
bahwa patah itu bukan dosa.
Bahwa runtuh itu bukan kegagalan.
Bahwa menangis itu bukan kelemahan—
itu tanda bahwa kita masih hidup.
RAGA:
Jika aku memelukmu,
apakah kita akan sembuh?
JIWA:
Tidak secepat itu.
Tapi pelukan itu
akan menyelamatkan kita dari keinginan untuk menghilang.
Dan itu sudah cukup untuk malam ini.
Datanglah, Raga.
Mari kita peluk ketakutan yang tak pernah kita beri nama.
RAGA:
Jiwa…
aku pulang.
Untuk pertama kalinya
tanpa berlari dari gelapmu.
JIWA:
Dan aku menunggu.
Sejak lama.
Dengan luka yang tak ingin dipaksa sembuh,
hanya ingin dipahami.
________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar