Diluar jangkauan pengertian
Langit menggulung pikirannya sendiri.
Ia meneteskan waktu,
ke dalam dada yang belum selesai belajar tenang.
Udara berjalan tanpa penjelasan,
membawa kabar dari sesuatu
yang tak pernah sempat kita tanyai.
Akar bergumam di bawah tanah,
Dia berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti siapa pun.
Batang mendengarkan.
Daun menafsir.
Dan hening menjadi penerjemah.
Rerumputan menunduk,
bukan karena kalah,
Mereka tahu cara memahami angin.
Mereka tumbuh tanpa bertanya,
dan tetap hijau
bahkan setelah dilupakan.
Hujan menulis pesan di telapak bumi —
hurufnya sudah pudar,
Meski begitu, tetap terbaca
oleh hati yang sabar menunggu reda.
Ada tangan
yang tidak terlihat.
Ia menata ulang kejatuhan,
menjadikannya bentuk baru dari pulang.
Bayang-bayang menua di dinding sore,
namun tak pernah benar-benar hilang.
Waktu berjalan tanpa bunyi,
tapi kita tahu:
ada yang sedang diperbaiki,
di luar jangkauan pengertian.
Langit menyimpan catatan di antara awan,
tentang siapa yang tetap jernih
saat segalanya menjadi keruh.
Ketulusan
tidak meminta disaksikan.
Ia menyalakan cahaya
dari dalam luka yang enggan dijelaskan.
Dan cinta
bukan milik, bukan ingin.
Ia hanya bertumbuh diam-diam
di dada yang berani tidak membalas.
Lalu, ketika malam datang tanpa pertanda,
langit menunduk sekali lagi.
Menyentuh bahu mereka yang tulus,
dan berbisik tanpa suara:
Aku berpihak padamu.
______________
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Note: Naskah ini berbicara tentang ketulusan dan cara semesta bekerja dalam diam.
Melalui simbol alam, kita diajak memahami bahwa setiap hal—termasuk luka dan kehilangan—punya waktunya sendiri untuk pulih.
Ketulusan tidak perlu disaksikan, cukup dijalani dengan tenang,
karena pada akhirnya, langit selalu tahu kepada siapa ia berpihak.
Komentar
Posting Komentar