Doa di Balik Tirai Luka
Malam sunyi setelah hujan.
Di sebuah ruangan kecil, hanya satu lilin menyala — cahayanya terpantul di tirai tipis yang memisahkan dua sosok.
Adikara berdiri di satu sisi, menunggu dengan dada penuh amarah dan rindu.
Sarasvati di sisi lain, berdoa agar cinta itu tidak berubah menjadi luka.
Malam ini, keduanya dipertemukan kembali — bukan untuk bersatu, tapi untuk mengakhiri doa yang belum selesai.
ADIKARA:
Sarasvati… malam ini terlalu panjang.
Angin berbisik membawa nama yang tak henti kuingat.
Bahkan bintang pun tampak lesu, seolah lelah menyaksikan aku menunggumu.
Tidakkah kau lelah bersembunyi di balik jarak yang kau ciptakan sendiri?
SARASVATI:
Aku tidak bersembunyi, Adikara.
Aku hanya menjaga sesuatu yang masih suci — agar tak ikut hancur bersama amarahmu.
ADIKARA:
Amarah?
Kau menyebut rinduku amarah?
Aku menunggu bertahun-tahun, menantang dunia, melawan darah dagingku sendiri!
Kau tahu apa yang kupikul demi kau?
Aku kehilangan ayahku, kepercayaannya, kerajaanku!
Semua karena aku memilih cinta ini!
Dan kini, di hadapanku, kau bicara tentang suci, seolah aku pendosa yang hanya ingin menodaimu.
SARASVATI:
Aku tak pernah menuduhmu pendosa, Adikara.
Aku hanya takut — cinta yang seharusnya menuntun, akan berubah menjadi api yang membakar kita berdua.
ADIKARA:
Aku sudah terbakar, Sarasvati!
Sejak kau menutup pintu itu dengan kata “sabar.”
Setiap malam aku menatap bayanganmu di dinding — berbicara pada udara, berharap jawabmu datang dalam angin.
Tapi yang datang hanya sepi dan luka.
Kau tahu rasanya berperang melawan kenangan yang bahkan tak mau mati?
SARASVATI:
Cinta tak seharusnya menjadi pertempuran, Adikara.
Jika kau terus memaksanya, maka cinta itu akan mati bukan karena waktu, tapi karena kau sendiri yang mencekiknya.
ADIKARA:
Aku tidak bisa diam! Aku telah kehilangan segalanya!
Aku tak punya nama, tak punya rumah, tak punya arah!
Hanya kau yang tersisa — satu-satunya alasan aku masih bernapas!
Dan kau masih bicara tentang jarak? Tentang batas?
Apakah hatimu terbuat dari batu suci yang tak bisa disentuh manusia sepertiku?
SARASVATI:
Hatiku berdarah, Adikara.
Tapi darah itu tak boleh tumpah karena paksaan.
Cinta yang sejati tahu kapan harus berhenti agar tidak berubah menjadi dosa.
ADIKARA:
Dosa?
Kau bicara tentang dosa, sementara aku menahan tangan ini dari memelukmu setiap malam?
Kau bicara tentang suci, sementara aku sujud dalam air mata, memohon agar Tuhan tidak menghukum cintaku padamu?
Apakah kau tahu, setiap kali kau menunduk, aku ingin memeluk bahumu — hanya agar dunia tahu aku masih punya tempat di hatimu!
SARASVATI:
Adikara… jangan dekati aku.
ADIKARA:
Aku tidak akan menyakitimu! Aku hanya ingin kau merasakan… mendekatlah sayang, ijinkan aku menyentuhmu.
Kau selalu bicara tentang Tuhan, tentang ketenangan. Tapi bagaimana aku bisa tenang, jika surga yang kuimpikan justru menjauh dengan langkahmu?
SARASVATI:
Tenanglah, Adikara. Jangan biarkan cinta menjadi topeng bagi keinginan yang tak lagi murni.
ADIKARA:
Kau tak mengerti! Aku ingin dekat… hanya itu!
(Suaranya bergetar, napasnya berat)
Aku hanya ingin merasakan kehadiranmu… Izinkan aku memelukmu walau sekejap, walau dunia menuduhku gila!
SARASVATI:
Adikara… lepaskan. Tolong.
Jangan biarkan dirimu jatuh sedalam itu.
Yang kau genggam bukan aku, tapi bayangan cintamu sendiri.
ADIKARA:
Kenapa, Sarasvati?
Kenapa setiap kali aku ingin meraihmu, kau menolakku?
Kau tahu, aku telah menukar takhta demi cinta ini.
Aku membakar namaku sendiri agar dunia tak lagi memanggilku raja, melainkan kekasihmu.
Apakah pengorbanan itu tak cukup untuk satu pelukan yang jujur?
SARASVATI:
Tidak ada cinta yang jujur bila lahir dari ketakutan, Adikara.
Kau tidak mencintaiku — kau hanya takut kehilanganku.
Dan dari ketakutan itu, lahirlah genggaman yang menyakitkan.
ADIKARA:
Jadi aku tak pantas mencintaimu?
Apakah cintaku seburuk itu hingga Tuhan pun enggan memberkati?
Aku sudah memberi segalanya, Sarasvati!
Apa lagi yang harus kukorbankan? Darahku? Nyawaku?
SARASVATI:
Yang harus kau korbankan adalah egomu, Adikara.
Cinta tak meminta dunia tunduk. Ia hanya meminta hati yang tenang.
ADIKARA:
Hati yang tenang?
Bagaimana aku bisa tenang jika setiap detik tanpa kau terasa seperti kutukan?
Aku memandangmu, dan seluruh langit runtuh dalam dadaku!
Apakah itu bukan cinta?
SARASVATI:
Itu obsesi, Adikara.
Dan obsesi selalu mematikan apa yang seharusnya indah.
ADIKARA:
(Suaranya pecah)
Aku tidak tahu lagi bagaimana mencintaimu tanpa kehilangan diriku sendiri.
Aku ingin dekat, tapi setiap kali kudekat, kau menjauh.
Aku ingin tenang, tapi setiap doa yang kupanjatkan berubah jadi tangis.
Apa yang kau inginkan dariku, Sarasvati?
SARASVATI:
Aku hanya ingin kau belajar mencinta tanpa harus memiliki.
Karena jika kau benar mencintaiku, kau tak akan membuatku takut dalam pelukanmu.
ADIKARA:
(Suara lirih)
Aku... aku minta maaf.
Aku hanya manusia.
Aku mencintaimu dengan cara yang salah, tapi hatiku sungguh milikmu.
SARASVATI:
Aku tahu, Adikara.
Dan karena itulah aku harus pergi — sebelum cintamu berubah menjadi luka yang tak bisa disembuhkan.
ADIKARA:
Jika pergi berarti selamatkanmu,
maka biarlah aku terbakar sendiri dalam cinta ini.
Tapi satu hal, Sarasvati —
jangan ajari aku melupakanmu.
Biarlah aku hidup dengan ingatanmu,
karena hanya itu yang tersisa dari seluruh hidupku.
SARASVATI:
Doa akan menemukanmu suatu hari nanti, Adikara.
Dan saat itu, semoga kau telah belajar mencintai tanpa melukai lagi.
ADIKARA:
Ya Allah...
Jika mencintai berarti kehilangan,
ajarkan aku cara mencintai tanpa melukai lagi.
---
Bondowoso, 07 November 2025
Karya: Sarah Bneiismael
.
.
.
Drama “Doa di Balik Tirai Luka” menyingkap pergulatan antara cinta, iman, dan ego manusia. Melalui tokoh Adikara dan Sarasvati, naskah ini menunjukkan bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan tentang melepaskan dengan kesadaran. Adikara mewakili cinta yang dikuasai hasrat dan kehilangan, sedangkan Sarasvati melambangkan cinta yang menjaga kesucian. Di antara keduanya, tirai menjadi simbol batas antara keinginan dan keikhlasan. Akhirnya, doa menjadi puncak cinta — bentuk tertinggi dari kasih yang tak lagi menuntut, hanya merelakan dengan hati yang tenang.
Komentar
Posting Komentar