Ekosistem yang Tak Bertumbuh (Ruang sosial tempat manusia berevolusi jadi spesies paling rajin membicarakan orang lain.)
Sebuah koloni hidup dari gosip,
mereka memanggilnya pertemanan.
Rapat diadakan setiap hari,
agenda tetapnya:
membedah nama orang lain hingga tak bersisa.
Mereka membangun hierarki dari kebencian,
menyusun struktur dari luka orang lain,
dan menanam dendam seperti bibit unggul —
dipelihara, disiram, dirawat,
agar kelak bisa dipanen menjadi bahan obrolan baru.
Mereka punya spesiesnya sendiri:
si burung pembawa kabar,
si ular penyebar bisik,
si cacing yang menggali masa lalu,
dan jamur oportunis yang tumbuh di setiap konflik baru.
Udara di ruangan itu lembap oleh prasangka
setiap tawa terdengar seperti racun yang sedang difermentasi.
Lucunya,
mereka menyebut rutinitas itu keakraban,
Padahal yang di bangun adalah
pabrik kebencian.
Mereka tak sadar:
semakin sering menyebut nama orang lain,
semakin mereka kehilangan jati diri.
Hidup tak seharusnya begitu.
Kita tak diciptakan untuk menumbuhkan iri,
Melainkan untuk menumbuhkan makna.
Bukan membahas siapa yang jatuh,
tapi belajar bagaimana berdiri.
Cobalah keluar dari ruangan itu —
hirup udara yang tak mengandung dengki,
dengarkan sunyi yang tidak menilai siapa-siapa.
Di luar sana,
masih ada cahaya,
masih ada cara tumbuh tanpa harus menginjak siapa pun.
Dan biarkan mereka terus berkumpul,
membuat rapat tanpa risalah,
menyebar opini seperti oksigen busuk yang mereka hirup sendiri.
Toh, suatu saat mereka akan kehabisan topik,
dan menyadari:
yang mereka bicarakan selama ini
bukan orang lain,
tapi kekosongan diri mereka sendiri.
__________
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar