IBU, (KETIKA KEMATIAN MENJADI KEBEBASAN)
Pada hari napasmu berhenti,
aku melihat waktu tersungkur seperti hamba
yang lupa berdiri dari sujudnya.
Matahari memadamkan dirinya sendiri,
seakan malu bersinar
di hadapan perempuan yang lebih terang
bahkan pada saat ajal memeluknya.
Aku menggenggam tanganmu—
tangan yang dulu menuntunku
mengeja Al-Fatihah seperti mengeja hidup.
Tangan itu dingin,
dingin yang membuat seluruh tubuhku merasa bersalah
karena tak mampu menghangatkanmu
sebelum malaikat datang mengambilmu
seperti embun yang kembali ke langitnya.
Syahadatmu keluar perlahan, patah-patah,
seolah huruf-hurufnya memohon izin
untuk kembali menjadi terang.
Dan ketika suara itu hilang,
aku mendengar bumi menahan napas:
bahkan tanah pun tahu
bahwa ia sedang menanti seorang wanita
yang lebih mulia daripada segenap penghuninya.
Saat rohmu terbang,
angin berhenti di tengah langkahnya—
takut menyentuhmu,
takut mengotori perjalananmu
yang begitu bersih menuju Allah.
Dan aku merasakan lega,
lega yang suci dan kejam,
seakan dunia akhirnya kalah
melukai seseorang yang terlalu lembut
untuk kekasarannya.
Dunia…
wajah aslimu baru tampak saat ibuku pergi.
Kau adalah pelaku kekerasan
yang berdiri tegap dengan dada pongah,
menganggap penderitaan adalah permainan
dan kelembutan adalah makanan ringan
yang bisa kau kunyah kapan saja.
Engkau memperlakukan ibuku
seperti boneka yang boleh dipatahkan sesuka hati.
Betapa sering engkau memeras hatinya,
mengiris jiwanya,
mengguncang tubuhnya—
seolah engkau ingin membuktikan
bahwa kebaikan tak pernah menang.
Bahkan angin pun menertawakan kelelahannya,
mengibaskan dingin ke tulang-tulangnya
sambil berbisik sinis:
“Perempuan ini terlalu lembut untuk kami.”
Ibu…
engkau yang seharusnya duduk di singgasana doa,
dihina oleh kenyataan yang tak tahu malu.
Engkau menanggalkan silsilahmu
seperti ratu yang melepaskan mahkota,
demi lelaki yang kau pilih
dan anak-anak yang sering lupa
betapa mahalnya cinta seorang ibu.
Jabatan yang seharusnya memuliakanmu
kau tinggalkan tanpa ragu,
seperti burung yang rela melipat sayapnya
agar sarang kecilnya tetap hangat.
Ketika ayah pergi,
dunia menertawakan kesendirianmu,
menonton dari jauh
sambil mengunyah ketegaranmu
seolah itu camilan sore
yang bisa habis dalam satu gigitan.
Dan engkau tetap tidak menyesal—
tetap mencintai,
tetap memaafkan,
tetap sujud,
meski seluruh beban dunia naik menginjak
pundakmu yang rapuh.
Aku—si bungsu
yang tumbuh sebelum waktunya—
diam-diam menjadi dewasa
dari cerita-cerita getir yang kau bisikkan.
Aku menyaksikan tubuhmu habis,
jiwamu teriris,
namun dunia masih meminta lebih,
lebih, dan lebih lagi—
seperti monster rakus
yang tak punya dasar tenggorokan.
Maka ketika kematian datang menjemputmu,
aku tidak melihat kekalahan;
aku melihat pembebasan.
Aku melihat engkau akhirnya
terlepas dari rantai yang dunia pasang
di pergelangan hatimu.
Kematian membuka pintu
yang dunia tak pernah izinkan terbuka.
Kematian menjadi sahabat
yang dunia tak layak iri terhadapnya.
Dan, Ibu…
setelah semuanya reda, aku mengerti:
dunia ini memang tidak pernah layak untukmu.
Ia hanyalah lorong gelap
tempat ujian ditebar seperti duri
yang menunggu telapak kita menginjak kemurkaaan.
Kebahagiaan yang kau genggam
direnggut sebelum sempat menghangat,
seperti bayang-bayang yang melarikan diri
setiap kali kau mendekat.
Dunia menatapmu seperti menatap lilin—
menunggu cahaya ikhlasmu padam
agar bisa berbisik congkak:
“Lihat? Bahkan ketabahan pun bisa dipecah.”
Ah, betapa hinanya dunia—
kecil seperti hati yang ciut
melihat perempuan yang bertahan
dengan iman yang menundukkan langit.
Kini, setiap aku menatap langit,
aku merasa kematian menatap balik
dengan teduhnya rahmat Allah,
seolah berkata:
“Tenanglah.
Akulah pintu yang kau doakan
agar terbuka lembut bagi ibumu.”
Dan dunia—yang dulu mencabik jiwamu
seperti hewan buas mencari pahala
yang tak ia punya—
kini membisu di hadapanku,
sebab apa lagi yang mampu ia gertakkan
kepada seorang anak
yang menyaksikan ibunya diuji
hingga malaikat pun menulisnya
dengan tangan yang bergetar hormat.
Ibu…
rinduku kini adalah badai yang terkurung,
menghantam rongga dada
seolah ingin meruntuhkan dinding takdir.
Dan dunia masih menertawakannya—
seperti penjara yang bangga
mendengar denting rantai para tawanan.
Biarlah.
Sebab rindu ini adalah saksi
di hadapan Allah
bahwa engkau berjalan jauh
melampaui luka, hinaan, dan lelah,
tanpa sekali pun melepas sujudmu.
Suatu hari nanti, Ibu,
aku pun akan bertemu kematian—
bukan sebagai teror,
melainkan pembebasan
yang Allah janjikan bagi jiwa letih.
Sebagaimana engkau lebih dulu kembali
kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkanmu
meski dunia menginjakmu tanpa ampun.
Dan ketika saatku tiba,
mungkin dunia akan kembali menggigil,
ditaklukkan untuk kedua kalinya—
sebab mereka yang hidup dalam sabar
selalu pulang dengan cara
yang dunia tak sanggup mengerti.
_____
Karya: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar