Kangkareng, Sumpah Alam (Pelajaran untuk Kita)
Di dalam jalinan angin yang tak pernah diam,
kangkareng perut putih muncul
seperti ikon museum
tanpa dinding,
tempat sunyi merangkai bisu,
dan bayang merajut waktu.
Paruhnya mengetuk celah hitam penyimpanan rahasia rimba—
suara jatuh
menyebar sebagai serbuk terang,
lalu berkumpul menjadi percik sinar hutan
yang tersesat di lantai rimba.
Betina dalam sarang
menjadi bayangan yang menahan waktu.
Di luar, sang jantan memunguti buah
yang pernah dibisikkan warna merah,
lalu mengubahnya
menjadi bentuk kesetiaan
yang bekerja tanpa perlu penamaan.
Dahan menunduk
seperti menyimpan keputusan
yang tak ingin dibocorkan pada manusia.
Kangkareng bergerak
di antara daun-daun yang kehilangan cerita,
tubuhnya menjelma riwayat hening
yang tak lagi dipahami hutan,
kesetiaannya bekerja
tanpa suara,
tanpa rencana,
tanpa menunggu tepuk tangan
dari oksigen.
Di sudut hutan,
seekor serangga menulis catatan tipis
pada hembusan gaib yang merayap antara akar tua:
bahwa manusia sering kehilangan arah.
Terlalu sibuk mengejar jejak-jejak yang tak pernah memberi rumah,
sementara dunia hanya meminta
sebuah ketetapan yang kembali pada asal mula.
Dan burung—
dengan bulu putih seperti halaman kosong
yang siap menelan seluruh kerumitan bahasa—
mengulang langkahnya,
mengulang tugasnya,
mengulang cintanya
seperti mesin tua
yang terus percaya
pada fungsi pertamanya.
Mungkin dari sinilah
manusia harus belajar:
bahwa hidup bisa ringkas,
bahwa setia bisa dikerjakan,
bahwa cinta bisa berjalan
tanpa perlu diubah menjadi paragraf panjang.
Hutan menutup lembar sunyi—
kangkareng bertahan—
urat purba terjalin dalam bisu,
bisik yang hampir terlupa,
napas rimba mengalir tanpa batas,
kesetiaan tanpa nama,
melintasi bayang dan waktu,
menanti manusia membuka mata,
untuk belajar dari akar yang merangkul bumi,
melangkah tanpa jejak,
menghormati sumpah tanpa suara—
mengajarkan setia tanpa pamrih,
berjalan dalam sunyi,
menyusup dalam irama hening alam.
---
Karya : Sarah Bneiismael
---
Note:
Puisi ini mengajak kita mengamati burung kangkareng, makhluk kecil yang menjalani hidupnya dengan sederhana dan penuh kesetiaan di tengah hutan. Burung ini bergerak dengan tenang dan konsisten, menjalankan tugasnya menjaga pasangan dan lingkungannya tanpa perlu banyak suara atau perhatian.
Melalui keberadaan kangkareng, puisi menyiratkan bahwa hidup tidak harus rumit atau penuh kata-kata. Ada kekuatan dalam kesederhanaan dan keteguhan yang hadir dalam keheningan.
Puisi ini membuka ruang bagi kita untuk melihat bagaimana alam berjalan dengan ritme sendiri yang penuh makna. Dari pengamatan terhadap kehidupan kangkareng, kita diajak merenungkan cara hidup yang mungkin bisa lebih sederhana dan tulus.
Komentar
Posting Komentar